BMKG Ungkap Pemicu Gempa Dangkal di Kaimana Papua Barat
Ilustrasi./visi.news/ist.
VISI.NEWS | JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengungkap aktivitas Sesar Tarera Aiduna menjadi pemicu gempa bumi tektonik dangkal yang mengguncang wilayah Kaimana, Papua Barat, Selasa (26/5/2026).
Gempa bermagnitudo 4,8 tersebut sempat dirasakan cukup kuat di sejumlah daerah, namun dipastikan tidak berpotensi tsunami.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan hasil pemodelan menunjukkan pusat gempa berada di laut pada kedalaman 24 kilometer. Lokasi episenter tercatat berada sekitar 50 kilometer tenggara Kaimana pada koordinat 4,01 derajat lintang selatan dan 134,00 derajat bujur timur.
Menurut BMKG, karakteristik gempa ini tergolong gempa dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di kawasan Papua Barat. Dari hasil analisis mekanisme sumber, gempa memiliki pola pergerakan geser atau strike slip.
Dalam konteks geologi, wilayah Papua memang dikenal memiliki aktivitas tektonik tinggi karena berada di jalur pertemuan sejumlah lempeng aktif. Kondisi tersebut membuat gempa bumi relatif sering terjadi, termasuk gempa dangkal yang getarannya dapat terasa cukup kuat meski magnitudonya tidak terlalu besar.
Berdasarkan peta guncangan atau shakemap BMKG, daerah Kaimana mengalami intensitas IV hingga V MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dirasakan hampir seluruh warga dan menyebabkan banyak orang terbangun dari tidur.
Sementara itu, Kota Kaimana merasakan intensitas III hingga IV MMI. Getaran juga menjalar hingga Kota Rasiei, Dobo, Bintuni, dan Nabire dengan skala II MMI yang ditandai benda ringan bergoyang dan getaran dirasakan sebagian warga.
Meski guncangan dirasakan di beberapa wilayah, hingga Selasa pagi BMKG belum menerima laporan kerusakan bangunan maupun fasilitas publik akibat gempa tersebut. Sistem monitoring BMKG juga belum mendeteksi adanya aktivitas gempa susulan.
Dalam situasi seperti ini, kepastian bahwa gempa tidak berpotensi tsunami menjadi faktor penting untuk menjaga ketenangan masyarakat, terutama di kawasan pesisir Papua Barat yang rawan aktivitas tektonik laut.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan menghindari bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat guncangan. Selain itu, warga diminta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi tetap penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan aktivitas sesar aktif seperti Papua Barat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!