BMKG: Fase Erupsi Anak Krakatau Berakhir Setelah 25 Jam 7 Sep 2026 BUMN Dipangkas dari 1.030 Jadi 250, Nengah Senantara: Nasib Karyawan Tetap Terjamin 7 Sep 2026 Ranny Fahd: Kenaikan Anggaran Kemendukbangga 2027 Harus Berdampak pada Pembangunan SDM 7 Sep 2026 Gamal Albinsaid Kritik Akurasi Sistem Desil, Soroti Risiko Pencabutan PBI-JK 7 Sep 2026 TB Hasanuddin Minta Kertajati Dipertahankan sebagai Bandara Internasional 7 Sep 2026 BMKG Terus Pantau Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau 7 Sep 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp2.637 per Gram 7 Sep 2026 Barros Bahagia Bawa Persib Menang atas PSM Makassar 7 Sep 2026 Tolic Apresiasi Dukungan Bobotoh dan Kerja Keras Pemain Persib 7 Sep 2026 Abu Vulkanik Masuk Bandung, Sekolah Wajibkan Masker 7 Sep 2026 BMKG: Fase Erupsi Anak Krakatau Berakhir Setelah 25 Jam 7 Sep 2026 BUMN Dipangkas dari 1.030 Jadi 250, Nengah Senantara: Nasib Karyawan Tetap Terjamin 7 Sep 2026 Ranny Fahd: Kenaikan Anggaran Kemendukbangga 2027 Harus Berdampak pada Pembangunan SDM 7 Sep 2026 Gamal Albinsaid Kritik Akurasi Sistem Desil, Soroti Risiko Pencabutan PBI-JK 7 Sep 2026 TB Hasanuddin Minta Kertajati Dipertahankan sebagai Bandara Internasional 7 Sep 2026 BMKG Terus Pantau Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau 7 Sep 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp2.637 per Gram 7 Sep 2026 Barros Bahagia Bawa Persib Menang atas PSM Makassar 7 Sep 2026 Tolic Apresiasi Dukungan Bobotoh dan Kerja Keras Pemain Persib 7 Sep 2026 Abu Vulkanik Masuk Bandung, Sekolah Wajibkan Masker 7 Sep 2026

BMKG Terus Pantau Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Desi Rossilawati
Senin, 7 September 2026 | 10:32 WIB
Bagikan
BMKG Terus Pantau Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu./visi.news/bmkg.go.id.

VISI.NEWS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi dampaknya terhadap atmosfer, keselamatan penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Mengutip dari laman resmi BMKG, Senin (7/9/2026), berdasarkan analisis citra satelit, Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang telah menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET), yakni peringatan dini terkait kondisi cuaca yang dapat membahayakan penerbangan, sesaat setelah erupsi awal pada (4/9/2026) pukul 23.23 WIB.

Hingga Minggu (6/9/2026), BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan navigasi udara.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.

Andri menjelaskan, abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebarannya mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan di sekitarnya.

Sementara itu, abu vulkanik pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran tersebut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

Sejumlah Bandara Ditutup Sementara

Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM), yakni pemberitahuan resmi mengenai kondisi penting dalam penerbangan, yang diterbitkan Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia pada 6 September 2026, terdapat penutupan sementara operasional sejumlah bandar udara.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.