Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026

BMKG Tegaskan Perubahan Iklim Nyata, 2024 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

Desi Rossilawati
Jumat, 6 Februari 2026 | 07:25 WIB
Bagikan
BMKG Tegaskan Perubahan Iklim Nyata, 2024 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

VISI.NEWS | JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sudah terjadi dan semakin terasa dampaknya di Indonesia. Data pengamatan menunjukkan tren kenaikan suhu yang signifikan, seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan berdasarkan laporan global terbaru, anomali suhu dunia pada 2024 telah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius, yakni mencapai lebih dari 1,55 derajat Celsius dibandingkan periode praindustri. Angka tersebut menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim global.

“Indikator perubahan iklim harus berbasis data. Dan data suhu menunjukkan secara jelas bahwa bumi semakin panas dan sudah melampaui ambang batas yang disepakati secara global,” ujar Andri dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema 'Cuaca Eksrim Sinergi dan Kolaborasi Atasi Bencana' yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekersama Biro Pemberitaan DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Andri menjelaskan, tren pemanasan global tersebut juga tercermin di Indonesia. Berdasarkan data pengamatan BMKG yang mencakup hampir satu abad, suhu rata-rata nasional menunjukkan kecenderungan terus meningkat.

“Rata-rata suhu Indonesia pada 2024 mencapai 27,52 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah pengamatan. Pola grafik sejak 1984 hingga 2024 menunjukkan tren yang semakin memerah, artinya semakin panas,” kata dia.

Kenaikan suhu tersebut berdampak langsung pada meningkatnya intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem, yang menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, baik basah maupun kering.

Bencana Bersumber dari Cuaca Ekstrem

BMKG mencatat, bencana hidrometeorologi basah meliputi banjir, banjir bandang, dan longsor, sementara bencana hidrometeorologi kering mencakup kekeringan berkepanjangan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 2025 menunjukkan, lebih dari 90 persen dari sekitar 2.590 bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi.

“Sebarannya memang terkonsentrasi di Sumatera dan Jawa, sebagian Kalimantan, serta Sulawesi. Wilayah-wilayah ini secara historis memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi,” ujar Andri.

El Nino La Nina Memperparah Anomali Musim

Selain tren pemanasan jangka panjang, variasi iklim tahunan seperti El Nino dan La Nina turut memperkuat dampak cuaca ekstrem. El Nino cenderung memicu kemarau lebih panjang dan intens, sedangkan La Nina menyebabkan curah hujan meningkat hingga 30-50 persen, termasuk saat musim kemarau.

“Anomali iklim ini juga bisa menggeser awal dan akhir musim hujan. Bisa datang lebih cepat, lebih lambat, atau berakhir lebih panjang,” kata Andri.

BMKG Dorong Penguatan Sistem Peringatan Dini

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini multi-bahaya. Andri merujuk pada inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertajuk Early Warning for All, yang menekankan bahwa peringatan dini dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian ekonomi. @givary

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.