Bitcoin Melemah, Pasar Kripto Tertekan Ketidakpastian Global
VISI.NEWS | BANDUNG - Pasar kripto pada perdagangan Selasa pagi (27/1/2026) dibuka dengan tekanan jual yang cukup kuat. Harga Bitcoin dan sejumlah aset kripto utama bergerak di zona merah seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi makroekonomi global yang belum stabil.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 05.30 WIB, kapitalisasi pasar kripto global tercatat berada di kisaran US$2,85 triliun, melemah dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya. Harga Bitcoin (BTC) terlihat turun ke level US$88.500 per koin atau sekitar Rp1,48 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.740,90 per dolar AS) pada saat berita ini ditulis.
Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar di pasar, juga tercatat melemah. Ethereum (ETH) diperdagangkan di kisaran US$4.750, Binance Coin (BNB) di level US$620, Solana (SOL) melemah ke US$185, Dogecoin (DOGE) jatuh sekitar 5 persen ke US$0,21, sementara XRP bergerak turun di kisaran US$0,68.
Dikutip dari CoinTelegraph, harga Bitcoin melemah seiring meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global. Tekanan jual membuat Bitcoin turun ke level terendah dalam beberapa hari terakhir, dengan pelaku pasar bersiap menghadapi pekan yang dinilai sarat dengan potensi volatilitas tinggi.
Berdasarkan data TradingView, pasangan BTC/USD tercatat terkoreksi sekitar 3,2 persen di bursa Bitstamp. Hingga Minggu, harga Bitcoin bergerak di kisaran US$88.000–US$90.000, mendekati area teknikal penting yang menjadi perhatian utama para trader dan analis pasar.
Tekanan harga ini juga tercermin dari lonjakan likuidasi di pasar kripto. Data CoinGlass menunjukkan total likuidasi dalam 24 jam terakhir mencapai sekitar US$420 juta, dengan posisi long mendominasi. Kondisi ini menandakan banyak pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh pada kenaikan harga terpaksa menutup posisi mereka.
Lembaga riset pasar The Kobeissi Letter menilai pelemahan pasar dipicu oleh kekhawatiran terhadap potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat (government shutdown) dalam waktu dekat. Situasi politik dan fiskal AS kembali menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan aset berisiko, termasuk kripto.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!