Belanda vs Maroko, Duel Identitas di Piala Dunia 2026
Belanda vs Maroko./visi.news/media perjuangan.
VISI.NEWS - Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Maroko di Monterrey bukan hanya menjadi duel memperebutkan tiket ke babak 16 besar. Pertemuan kedua tim juga mencerminkan sejarah panjang migrasi, identitas, dan pilihan kewarganegaraan yang membentuk wajah sepak bola modern.
Secara performa, kedua tim sama-sama datang dengan catatan impresif. Belanda lolos sebagai juara Grup F dengan tujuh poin tanpa terkalahkan dan mencetak 10 gol, menyamai rekor mereka sebagai tim paling produktif pada fase grup. Sementara itu, Maroko melaju sebagai runner-up Grup C tanpa kekalahan, hanya kalah selisih gol dari Brasil.
Namun, makna pertandingan ini melampaui persaingan di atas lapangan. Selama bertahun-tahun, banyak pesepak bola keturunan Maroko yang lahir dan dibesarkan di Belanda memilih memperkuat tim nasional Belanda. Kini, tren tersebut mulai berubah seiring meningkatnya jumlah pemain yang memilih membela Maroko.
Perubahan itu berawal dari kisah Dries Boussatta, pemain kelahiran Amsterdam yang menjadi pesepak bola keturunan Maroko pertama yang memperkuat timnas Belanda pada 1998. Setelah tampil dalam laga persahabatan bersama Belanda, ia kemudian beralih membela Maroko ketika aturan FIFA saat itu masih memperbolehkan perpindahan asosiasi.
Dalam perkembangannya, Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko mulai membangun strategi jangka panjang untuk merekrut pemain berkewarganegaraan ganda. Lebih dari satu dekade terakhir, federasi tersebut menempatkan pemandu bakat di sejumlah negara Eropa, termasuk Belanda, Prancis, Belgia, dan Spanyol, untuk menjalin hubungan dengan para pemain dan keluarga mereka sejak usia muda.
Strategi tersebut berdampak signifikan terhadap komposisi skuad Maroko. Dari 26 pemain yang dibawa ke Piala Dunia 2026, sebanyak 19 pemain lahir di luar Maroko. Bahkan, saat menghadapi Brasil di fase grup, Maroko menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang menurunkan seluruh pemain inti kelahiran luar negeri.
Salah satu contoh perubahan tersebut adalah keputusan Hakim Ziyech. Meski lahir di Belanda dan berkembang melalui sistem pembinaan sepak bola negara itu, Ziyech akhirnya memilih memperkuat Maroko.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!