Belanda vs Maroko, Duel Identitas di Piala Dunia 2026

Desi Rossilawati
Selasa, 30 Juni 2026 | 09:42 WIB
Bagikan
Belanda vs Maroko, Duel Identitas di Piala Dunia 2026

Belanda vs Maroko./visi.news/media perjuangan.

VISI.NEWS - Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Maroko di Monterrey bukan hanya menjadi duel memperebutkan tiket ke babak 16 besar. Pertemuan kedua tim juga mencerminkan sejarah panjang migrasi, identitas, dan pilihan kewarganegaraan yang membentuk wajah sepak bola modern.

Secara performa, kedua tim sama-sama datang dengan catatan impresif. Belanda lolos sebagai juara Grup F dengan tujuh poin tanpa terkalahkan dan mencetak 10 gol, menyamai rekor mereka sebagai tim paling produktif pada fase grup. Sementara itu, Maroko melaju sebagai runner-up Grup C tanpa kekalahan, hanya kalah selisih gol dari Brasil.

Namun, makna pertandingan ini melampaui persaingan di atas lapangan. Selama bertahun-tahun, banyak pesepak bola keturunan Maroko yang lahir dan dibesarkan di Belanda memilih memperkuat tim nasional Belanda. Kini, tren tersebut mulai berubah seiring meningkatnya jumlah pemain yang memilih membela Maroko.

Perubahan itu berawal dari kisah Dries Boussatta, pemain kelahiran Amsterdam yang menjadi pesepak bola keturunan Maroko pertama yang memperkuat timnas Belanda pada 1998. Setelah tampil dalam laga persahabatan bersama Belanda, ia kemudian beralih membela Maroko ketika aturan FIFA saat itu masih memperbolehkan perpindahan asosiasi.

Dalam perkembangannya, Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko mulai membangun strategi jangka panjang untuk merekrut pemain berkewarganegaraan ganda. Lebih dari satu dekade terakhir, federasi tersebut menempatkan pemandu bakat di sejumlah negara Eropa, termasuk Belanda, Prancis, Belgia, dan Spanyol, untuk menjalin hubungan dengan para pemain dan keluarga mereka sejak usia muda.

Strategi tersebut berdampak signifikan terhadap komposisi skuad Maroko. Dari 26 pemain yang dibawa ke Piala Dunia 2026, sebanyak 19 pemain lahir di luar Maroko. Bahkan, saat menghadapi Brasil di fase grup, Maroko menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang menurunkan seluruh pemain inti kelahiran luar negeri.

Salah satu contoh perubahan tersebut adalah keputusan Hakim Ziyech. Meski lahir di Belanda dan berkembang melalui sistem pembinaan sepak bola negara itu, Ziyech akhirnya memilih memperkuat Maroko.

"Saya selalu merasa sebagai orang Maroko," katanya. "Saya memilih dengan hati."

Keputusan Ziyech kemudian diikuti sejumlah pemain lain seperti Noussair Mazraoui, Sofyan Amrabat, Anass Salah-Eddine, hingga Ismael Saibari yang juga memiliki latar belakang pembinaan sepak bola di Eropa.

Pertandingan Belanda melawan Maroko juga memiliki kaitan erat dengan sejarah migrasi. Gelombang perpindahan warga Maroko ke Belanda dimulai melalui perjanjian tenaga kerja pada akhir 1960-an. Seiring waktu, banyak keluarga menetap secara permanen hingga melahirkan generasi baru warga Belanda keturunan Maroko.

Kondisi tersebut membuat banyak pesepak bola memiliki dua identitas kebangsaan dan harus menentukan pilihan ketika tampil di level internasional. Kini, pilihan memperkuat Maroko semakin banyak diambil oleh pemain keturunan Maroko yang lahir di Belanda.

Pertemuan kedua tim di Piala Dunia 2026 pun menjadi simbol perubahan dinamika tersebut. Jika pada Piala Dunia 1994 Belanda mengalahkan Maroko lewat inspirasi Dennis Bergkamp, maka 32 tahun kemudian kedua negara kembali bertemu dengan cerita berbeda, ketika sepak bola menjadi cerminan perubahan identitas, migrasi, dan hubungan antargenerasi yang berkembang di panggung sepak bola dunia.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.