Belanda vs Maroko, Duel Identitas di Piala Dunia 2026
Belanda vs Maroko./visi.news/media perjuangan.
"Saya selalu merasa sebagai orang Maroko," katanya. "Saya memilih dengan hati."
Keputusan Ziyech kemudian diikuti sejumlah pemain lain seperti Noussair Mazraoui, Sofyan Amrabat, Anass Salah-Eddine, hingga Ismael Saibari yang juga memiliki latar belakang pembinaan sepak bola di Eropa.
Pertandingan Belanda melawan Maroko juga memiliki kaitan erat dengan sejarah migrasi. Gelombang perpindahan warga Maroko ke Belanda dimulai melalui perjanjian tenaga kerja pada akhir 1960-an. Seiring waktu, banyak keluarga menetap secara permanen hingga melahirkan generasi baru warga Belanda keturunan Maroko.
Kondisi tersebut membuat banyak pesepak bola memiliki dua identitas kebangsaan dan harus menentukan pilihan ketika tampil di level internasional. Kini, pilihan memperkuat Maroko semakin banyak diambil oleh pemain keturunan Maroko yang lahir di Belanda.
Pertemuan kedua tim di Piala Dunia 2026 pun menjadi simbol perubahan dinamika tersebut. Jika pada Piala Dunia 1994 Belanda mengalahkan Maroko lewat inspirasi Dennis Bergkamp, maka 32 tahun kemudian kedua negara kembali bertemu dengan cerita berbeda, ketika sepak bola menjadi cerminan perubahan identitas, migrasi, dan hubungan antargenerasi yang berkembang di panggung sepak bola dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!