Belajar Siap Sebelum Gempa Datang di Bandung
Di kawasan rusun, persoalan tersebut menjadi semakin penting. Bangunan bertingkat dihuni banyak keluarga dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda. Ketika terjadi keadaan darurat, proses evakuasi tidak hanya menyangkut diri sendiri, tetapi juga anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, hingga warga yang mungkin membutuhkan bantuan.
Dalam situasi seperti itu, mengetahui teori saja belum tentu cukup.
Warga perlu mengetahui pintu keluar, jalur evakuasi, titik kumpul, serta memahami siapa yang bertugas membantu kelompok rentan. Mereka juga perlu mengetahui bagaimana berkomunikasi ketika jaringan komunikasi terganggu atau informasi yang beredar tidak semuanya benar.
Karena itu, BPBD tidak langsung membawa masyarakat ke dalam simulasi lapangan. Prosesnya dimulai dari meja.
Melalui Tabletop Exercise, peserta diajak terlebih dahulu memahami skenario. Mereka membahas apa yang mungkin terjadi ketika gempa berlangsung, bagaimana pergerakan warga, siapa melakukan apa, dan bagaimana koordinasi dilakukan.
“Sekarang kita tingkatkan menjadi TTX, atau Tabletop Exercise. Kita ingin memaparkan apa yang harus kita lakukan, bagaimana pergerakan dan koordinasinya. Setelah itu, baru kita melakukan simulasi sesungguhnya,” kata Didi.
TTX pada dasarnya menjadi ruang untuk menguji kesiapan sebelum menghadapi kondisi yang lebih nyata. Kesalahan dalam latihan menjadi kesempatan untuk memperbaiki prosedur. Jalur komunikasi yang belum jelas dapat dibenahi. Pembagian tugas yang tumpang tindih dapat diperjelas. Warga juga dapat mengetahui bagian mana dari rencana evakuasi yang masih membutuhkan perbaikan.
Inilah alasan latihan bencana tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan seremonial.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!