Belajar Kesabaran dari Imam Syafi'i dan Junaid al Bhagdadi

ED
Kamis, 27 April 2023 | 06:02 WIB
Bagikan
Belajar Kesabaran dari Imam Syafi'i dan Junaid al Bhagdadi

VISI.NEWS | BANDUNG Belajar sabar berarti belajar mengendalikan amarah atau ghadhab. Amarah kerapkali diartikan sebagai kondisi mendidihnya darah dalam jantung yang mendorong seseorang untuk mencaci-maki, mencela dan menuntut balas atas perlakuan yang membuatnya sampai pada kondisi tersebut.

Kemarahan tidak bisa diundang atau dipaksa datang. Persis seperti cinta. Sebab, ia tergolong dalam sifat naluriah manusia. Sebagaimana seseorang tidak dapat dipaksa untuk mencintai, ia juga tidak dapat dipaksa untuk memarahi. Selain itu, kemarahan juga tidak bisa dimusnahkan dan menghabisinya hingga ke akar.

Kita hanya bisa mengendalikannya menjadi energi positif yang dahsyat. Karena itu, ulama tidak pernah memberi tips untuk memusnahkan kemarahan, melainkan mengendalikannya. Satu-satunya alat mengendalikan kemarahan adalah ilmu dan kepekaan mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Terkait bagaimana mengendalikan sifat marah, kita bisa belajar dari kisah Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i dan Imam Junaid Al-Baghdadi, sebagaimana dalam kitab Tanwirul Qulub karya Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili (wafat 1322 H), seorang Syafi’i sentris dan asketis penganut tarekat Naqsabandiyah.

Kisah As-Syafi’i dan Para Pendengki Adalah Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i, termasuk ulama yang masyhur dengan hiasan akhlak terpuji. Selain dermawan, ia juga terkenal berhati lapang, lembut, penyabar dan penuh kasih sayang. Berkali-kali sekelompok pendengki berupaya membuatnya marah.

Namun sayang, upaya demi upaya selalu gagal. Sampai pada suatu hari, sekelompok pendengki mendatangi seorang tukang jahit setelah mengetahui bahwa As-Syafi’i meminta agar dibuatkan baju di sana. Segala bujuk rayu mereka lakukan di hadapan si tukang jahit demi menyalurkan misi kedengkian mereka terhadap As-Syafi’i. Sampai-sampai mereka berani membayar mahal si tailor agar ia menuruti apapun yang mereka mau.

Pendek kisah, setelah mendapati tawaran bayaran yang tinggi, bapak tukang jahit langganan As-Syafi’i itupun sanggup menjalankan perintah apapun. Tanpa pikir panjang, para pendengki lekas menyerahkan uang dan membisikkan sebuah misi aneh. Selama menjadi penjahit senior, baru pertama kali itu ia mendapat misi yang melenceng dari kapasitasnya sebagai tukang jahit profesional.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.