VISI.NEWS | BANDUNG — Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menempatkan jaringan pangkalan militer AS di Timur Tengah dalam sorotan. Pernyataan keras dari kedua pihak memicu kekhawatiran bahwa eskalasi politik bisa berubah menjadi konfrontasi terbuka, dengan instalasi militer Amerika di kawasan berpotensi menjadi sasaran balasan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan sikap negaranya dengan mengatakan Washington “siap, bersedia, dan mampu” menyerang musuhnya. Di sisi lain, Teheran merespons dengan janji akan memberikan “respons yang menghancurkan” jika diserang. Seorang juru bicara militer Iran bahkan memperingatkan bahwa Amerika Serikat memiliki banyak pangkalan yang “berada dalam jangkauan rudal jarak menengah kami.”
Pangkalan-pangkalan tersebut tersebar di berbagai negara Teluk dan sekitarnya, menjadi tulang punggung operasi militer Amerika di bawah Komando Pusat AS (CENTCOM). Keberadaannya tak hanya berfungsi sebagai pusat logistik dan komando, tetapi juga simbol kehadiran militer Washington di kawasan yang sarat konflik.
Di Bahrain, Angkatan Laut AS mengoperasikan Naval Support Activity Bahrain, markas Armada Kelima sekaligus pusat komando operasi laut di kawasan. Pelabuhan laut dalam di negara kecil Teluk itu mampu menampung kapal induk dan berbagai kapal perang besar lainnya, menjadikannya salah satu titik strategis terpenting bagi operasi maritim Amerika.
Irak masih menjadi lokasi penempatan pasukan AS, terutama di wilayah otonom Kurdi. Kehadiran tersebut awalnya difokuskan pada operasi melawan ISIS, meski jumlah pasukan dan cakupan operasi terus disesuaikan lewat kesepakatan dengan pemerintah Baghdad. Sejak pecahnya konflik Gaza pada 2023, pasukan AS di Irak dan Suriah beberapa kali menjadi target serangan kelompok militan yang didukung Iran.
Kuwait juga menjadi simpul penting. Camp Arifjan berfungsi sebagai markas depan komponen Angkatan Darat AS di bawah CENTCOM, sementara Pangkalan Udara Ali al-Salem menjadi pusat pergerakan udara militer, termasuk untuk pengiriman pasukan dan logistik. Drone tempur seperti MQ-9 Reaper turut ditempatkan di negara tersebut.