Batik Walk Semarakkan Bandung, Ratusan Warga Rayakan Warisan Budaya
Raisya dan sebagian peserta batik walk di Kota Bandung, Minggu (9/8/2026). /visi.news/dok.bambang melga
VISI.NEWS – Semangat melestarikan warisan budaya Nusantara tampak begitu terasa di jantung Kota Bandung, Minggu (9/8/2026). Sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan antusias mengikuti kegiatan Batik Walk yang digelar Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-18.
Kegiatan jalan santai bernuansa budaya ini menjadi pembuka rangkaian agenda besar menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026, yang puncaknya akan diselenggarakan pada akhir Oktober mendatang. Sejak pagi hari, kawasan bersejarah Kota Kembang dipenuhi warna-warni kain batik yang dikenakan peserta dari berbagai komunitas, organisasi, perguruan tinggi, hingga masyarakat umum.
Ketua Umum YBJB, Sendy Dede Yusuf, mengatakan bahwa Batik Walk bukan sekadar kegiatan olahraga bersama, melainkan gerakan kolektif untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap batik sebagai identitas budaya bangsa.
“Pelestarian batik tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah agar ekosistem batik Jawa Barat semakin kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menyusuri Jejak Sejarah Kota Bandung
Sejak pukul 07.00 WIB, para peserta berkumpul di halaman Gedung PR, Jalan Asia Afrika, yang menjadi titik awal perjalanan. Dengan mengenakan berbagai kreasi busana batik yang menarik dan modern, mereka berjalan menyusuri sejumlah kawasan bersejarah Kota Bandung.
Rute Batik Walk melintasi Gedung Merdeka, Jalan Banceuy, Jalan Cikapundung, Jalan Braga, hingga berakhir di halaman Gedung Bank Indonesia Jawa Barat. Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi sarana olahraga dan silaturahmi, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata sejarah yang mempertemukan nilai budaya dengan ruang-ruang ikonik Kota Bandung.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya Komunitas Cinta Berkain Indonesia, Pipebi, anggota Yayasan Batik Jawa Barat, Majelis Taklim Azzahra, HRB, Asephi Jawa Barat, Manikan Khatulistiwa, Dekranasda Jawa Barat, hingga delegasi mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Bandung dan Institut Teknologi Nasional (Itenas).
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tersebut menunjukkan bahwa batik mampu menjadi titik temu yang menyatukan masyarakat lintas generasi dan profesi.
Dukungan Pemerintah dan Bank Indonesia
Perjalanan menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026 mendapat dukungan kuat dari berbagai pihak. Langkah besar YBJB memperoleh apresiasi langsung dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang sebelumnya menerima audiensi pengurus YBJB di Gedung Pakuan.
Selain itu, kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia Jawa Barat sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya.
Pada puncak Jambore Batik Jawa Barat 2026 nanti, sejumlah agenda strategis akan digelar, antara lain Pemilihan Duta Batik YBJB, peluncuran buku panduan membatik untuk jenjang SD hingga SMA, serta forum besar para perajin batik se-Jawa Barat yang diharapkan menjadi wadah penguatan jejaring dan pengembangan industri batik daerah.
Batik untuk Semua Generasi
Salah satu pesan penting yang ingin disampaikan melalui Batik Walk adalah bahwa batik bukan sekadar pakaian resmi atau busana seremonial. Dengan kewajiban mengenakan atribut batik selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan bahwa batik dapat tampil modern, nyaman, dan cocok digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Beragam model busana yang dikenakan peserta menjadi bukti bahwa batik mampu beradaptasi dengan tren fesyen masa kini tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Setelah mencapai garis akhir di halaman Gedung Bank Indonesia, kemeriahan acara berlanjut dengan berbagai aktivitas menarik seperti Senam Batik, edukasi transaksi digital melalui QRIS, serta bazar UMKM yang menghadirkan produk-produk unggulan perajin lokal.
Hadirkan Program Batik Difabel
Tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, kegiatan ini juga mengusung semangat inklusivitas dan pemberdayaan sosial.
YBJB berkolaborasi dengan Komunitas Batik Difabel Cimahi untuk meluncurkan program “Batik Difabel”, sebuah program yang dirancang sebagai ruang kreatif bagi penyandang disabilitas agar dapat berkarya sekaligus memperoleh kemandirian ekonomi melalui keterampilan membatik.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari peserta karena dinilai mampu membuka peluang yang lebih luas bagi kelompok difabel untuk berpartisipasi aktif dalam pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi keluarga.
Edukasi Batik Asli dan Printing
Di sela kegiatan, Ketua Harian YBJB yang juga akademisi dan pakar batik, Dr. Komarudin Kudiya atau yang akrab disapa Kang Komar, memberikan edukasi mengenai pentingnya memahami perbedaan antara batik asli dan kain bermotif batik hasil printing.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami karakteristik batik autentik sehingga kerap menyamakan semua kain bermotif batik sebagai produk batik.
“Yang namanya batik itu bisa dilihat dari cara pembuatannya. Baik melalui teknik membatik secara manual menggunakan bahan lilin yang dipanaskan dan media canting sebagai alat gambarnya, maupun dengan cara dicetak atau cap. Kalau prosesnya dibuat lewat jalur printing pabrikan, itu sebenarnya bukan batik, melainkan kain printing yang bermotif batik,” jelas Kang Komar.
Edukasi tersebut mendapat perhatian besar dari peserta karena dinilai penting untuk meningkatkan literasi masyarakat sekaligus melindungi keberlangsungan para perajin batik tradisional.
Mahasiswa Bangga Ikut Melestarikan Batik
Antusiasme juga datang dari kalangan generasi muda. Salah seorang peserta, Raisya Akmalia Putri, mengaku senang dan bangga dapat mengikuti Batik Walk bersama para pegiat batik dari berbagai daerah di Jawa Barat.
“Acara ini asyik sekali. Aku bisa bertemu dengan para pelaku dan penggiat batik di Jawa Barat. Semoga kegiatan seperti ini terus ada setiap tahun karena sangat bermanfaat untuk mengenalkan batik kepada generasi muda,” ungkap Raisya.
Melalui Batik Walk, Yayasan Batik Jawa Barat tidak hanya mengajak masyarakat berjalan menyusuri sejarah Kota Bandung, tetapi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melangkah bersama menjaga warisan budaya yang telah menjadi identitas bangsa Indonesia di mata dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!