"Bathub" Putra Mahkota yang Menembus Zaman
- Memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, Tim Gowes VISI.NEWS yang terdiri atas Aep S. Abdullah, Edi Sudjono, dan Untung Sumarsono memulai perjalanan napak tilas sejarah dengan tema "Gowes Sejarah". Kegiatan yang berlangsung selama sembilan hari, mulai 1 hingga 9 Muharram 1448 H ini menjadi upaya menelusuri jejak-jejak peradaban Islam dan sejarah bangsa di Kota Solo Jawa Tengah dan beberapa kota di Jawa Timur.
VISI.NEWS | KEDIRI – Perjalanan Tim Gowes VISI.NEWS menyusuri jejak sejarah di Kota Kediri menghadirkan pengalaman yang tak biasa. Saat mengunjungi Museum Airlangga di Jalan Mastrip No. 1, Kelurahan Pojok (Seberang Universitas Kadiri - bukan Kediri), Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, rombongan seakan diajak masuk ke dalam kapsul waktu yang membawa pengunjung kembali ke era kejayaan Kerajaan Kadiri hampir sembilan abad silam.
Di antara ratusan koleksi arkeologi yang tersimpan rapi di museum yang berada satu kawasan dengan Goa Selomangleng tersebut, perhatian Tim Gowes VISI.NEWS langsung tertuju pada sebuah benda batu berukuran besar yang ditempatkan di tengah ruang pamer utama. Sekilas bentuknya menyerupai bathub atau bak mandi modern. Namun benda itu bukan sembarang bak mandi. Itulah Jambangan Batu, mahakarya peninggalan Kerajaan Kadiri yang diperkirakan berasal dari tahun 1118 Masehi.
Jambangan batu tersebut menjadi koleksi unggulan Museum Airlangga sekaligus salah satu artefak paling langka di Indonesia. Tidak banyak museum yang memiliki peninggalan berupa bak mandi kerajaan yang digunakan oleh kalangan istana, termasuk para putra mahkota dan keluarga raja.
Saat ditemui Tim Gowes VISI.NEWS, Sabtu (20/6/2026), juru pelihara museum, Andi Rahardi (40), menjelaskan bahwa benda bersejarah itu memiliki nilai historis, spiritual, dan artistik yang sangat tinggi.
"Jambangan batu ini merupakan bak mandi kerajaan atau tempat penampungan air suci. Pada masa lalu digunakan dalam ritual Topo Kungkum, yaitu berendam untuk membersihkan diri lahir dan batin. Para raja melakukan ritual ini agar memiliki pikiran yang jernih, hati yang bersih, sehat jasmani dan rohani, serta menjadi pemimpin yang bijaksana," ujar Andi Rahardi kepada Edi Sudjono.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!