Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026

Bandi "Apai Janggut" Pejuang Restorasi Ekosistem dari Kalimantan Raih Hadiah Rp. 16 Miliar Lebih

ED
Rabu, 26 Juli 2023 | 17:08 WIB
Bagikan
Bandi "Apai Janggut" Pejuang Restorasi Ekosistem dari Kalimantan Raih Hadiah Rp. 16 Miliar Lebih
  • Bandi "Apai Janggut" bersama pejuang restorasi ekosistem asal Kamerun, dan Brazil raih hadiah senilai €1 juta (Rp. 16,6 miliar) dari Gulbenkian Prize for Humanity. 

VISI.NEWS | LISBON - Tiga sosok inspiratif diumumkan Calouste Gulbenkian Foundation sebagai pemenang Gulbenkian Prize for Humanity 2023. Ketiga sosok ini meraih anugerah tersebut atas kiprahnya sebagai pemimpin yang merestorasi dan melestarikan ekosistem penting: Bandi "Apai Janggut", pemimpin komunitas adat (Indonesia), Cécile Bibiane Ndjebet, pejuang dan ahli pertanian (Kamerun), serta Lélia Wanick Salgado, ahli lingkungan hidup, desainer, dan skenografer (Brazil).

Dewan Juri, dipimpin oleh mantan Kanselir Jerman Angela Merkel, memilih ketiga sosok tersebut dari 143 nominasi yang berasal dari 55 negara. Pemenang Gulbenkian Prize for Humanity terpilih berkat kiprah sebagai pemimpin dan kerja kerasnya selama puluhan tahun dalam merestorasi ekosistem penting, termasuk hutan, lanskap dan tanaman bakau, serta melindungi lahan demi kepentingan komunitas lokal. Setiap pemenang penghargaan ini berkomitmen menjalankan program di wilayah lokal guna merestorasi dan melestarikan lahan serta keanekaragaman hayati yang sangat berperan bagi kesehatan bumi, dan memitigasi dampak perubahan iklim.

Bandi alias "Apai Janggut" adalah seorang tokoh dan pemimpin Rumah Betang Suku Dayak Iban Sungai Utik yang terletak di hutan hujan Kalimantan Barat, Pulau Kalimantan, Indonesia. Bandi memimpin komunitasnya memperjuangkan hak atas tanah adat selama lebih dari 40 tahun. Pada 2020, pemerintah Indonesia akhirnya mengakui hak hukum dan kepemilikan komunitas Dayak Iban terhadap lahan seluas 9.500 hektar.

Cécile Bibiane Ndjebet adalah pejuang kesetaraan gender dan hak masyarakat atas hutan dan sumber daya alam dari Kamerun. Selama lebih dari 30 tahun, dia telah memperjuangkan hak kepemilikan perempuan atas tanah sehingga kaum perempuan berperan memulihkan ekosistem penting, mengakhiri kemiskinan, serta mengatasi perubahan iklim.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.