Baja Naik Panggung, Arsitek Ditantang Tahan Zaman
PT NS BlueScope Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia menghadirkan Indonesia Steel Architectural Award 2026, sebuah ajang seleksi nasional yang akan menentukan wakil Indonesia di panggung regional ASEAN. /visi.news/ist
VISI.NEWS | BANDUNG - Kompetisi arsitektur nasional berbasis baja resmi diluncurkan. PT NS BlueScope Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia menghadirkan Indonesia Steel Architectural Award 2026, sebuah ajang seleksi nasional yang akan menentukan wakil Indonesia di panggung regional ASEAN.
Mengusung tema “Shaping Resilient Futures – Timeless Design with Coated Steelâ€, kompetisi ini tidak sekadar mencari desain indah, tetapi juga karya yang mampu bertahan dalam ujian waktu. Baja lapis atau *coated steel* ditempatkan sebagai material utama yang diharapkan mampu menjawab tantangan arsitektur modern: estetika, ketahanan, dan keberlanjutan dalam satu paket.
Presiden Direktur BlueScope Indonesia, Jenny Margiano, menegaskan bahwa ajang ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap kreativitas arsitek Tanah Air. Menurutnya, penggunaan baja lapis bukan hanya soal kekuatan struktur, tetapi juga peluang menciptakan identitas visual bangunan yang tetap relevan dalam jangka panjang.
Ia juga menyoroti kategori khusus “Lasting Beauty of COLORBOND®†sebagai bentuk apresiasi terhadap proyek-proyek yang telah berdiri minimal lima tahun namun tetap mempertahankan kualitas visualnya. Kategori ini menjadi pembeda karena tidak hanya menilai konsep, tetapi juga performa nyata bangunan setelah digunakan.
Kompetisi ini terbuka luas bagi seluruh pelaku proyek, mulai dari arsitek, pemilik proyek, kontraktor, hingga pelaku industri seperti *roll former*. Ada empat kategori utama yang dilombakan: bangunan residensial, industrial, komersial, serta publik dan infrastruktur.
Kategori residensial mencakup rumah tinggal hingga apartemen bertingkat. Sementara kategori industrial meliputi pabrik, gudang, dan fasilitas logistik. Di sisi lain, kategori komersial mengakomodasi pusat perbelanjaan, hotel, hingga kawasan *mixed-use*. Sedangkan kategori publik mencakup bangunan strategis seperti bandara, stasiun, sekolah, rumah sakit, hingga gedung pemerintahan.
Penilaian dalam kompetisi ini tidak main-main. Panel juri yang terdiri dari arsitek senior dan pemimpin industri akan menguji karya berdasarkan tiga pilar utama: keunggulan desain, inovasi, dan keberlanjutan. Artinya, peserta tidak cukup hanya menghadirkan bangunan indah, tetapi juga harus mampu menjawab tantangan lingkungan dan efisiensi energi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!