Baja Naik Panggung, Arsitek Ditantang Tahan Zaman

ED
Senin, 20 April 2026 | 17:24 WIB
Bagikan
Baja Naik Panggung, Arsitek Ditantang Tahan Zaman

PT NS BlueScope Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia menghadirkan Indonesia Steel Architectural Award 2026, sebuah ajang seleksi nasional yang akan menentukan wakil Indonesia di panggung regional ASEAN. /visi.news/ist

Ketua Badan Penghargaan Arsitektur IAI, Dill Raaj Singh, menilai ajang ini sebagai momentum penting untuk menunjukkan kapasitas arsitektur Indonesia di tingkat global. Ia menekankan bahwa karya arsitek Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing, asalkan didukung eksplorasi material dan pendekatan desain yang tepat.

Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini membuka jalan menuju panggung internasional. Pemenang tingkat nasional akan mendapatkan trofi, sertifikat, publikasi luas, serta kesempatan menghadiri malam penghargaan *ASEAN Steel Architectural Awards 2026* di Thailand.

Tak berhenti di situ, pemenang tingkat ASEAN juga akan memperoleh kesempatan eksklusif mengikuti perjalanan pembelajaran selama satu minggu ke fasilitas BlueScope di Australia. Ini menjadi peluang langka untuk memperluas wawasan sekaligus jejaring global.

Periode pendaftaran telah dibuka sejak 4 Maret dan akan berlangsung hingga 30 Mei 2026. Syarat utamanya, proyek yang diajukan harus sudah selesai dan beroperasi penuh paling lambat Februari 2026, serta belum pernah memenangkan penghargaan serupa sebelumnya.

Kehadiran kompetisi ini juga mencerminkan perubahan arah dalam dunia arsitektur. Jika dulu fokus utama ada pada estetika semata, kini ketahanan material dan keberlanjutan menjadi faktor penentu. Bangunan tidak lagi dinilai dari tampilan awal, tetapi dari kemampuannya bertahan puluhan tahun.

Dalam konteks itu, baja lapis menawarkan solusi menarik. Selain kuat dan fleksibel, material ini juga dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap korosi dan perubahan cuaca, menjadikannya relevan untuk iklim tropis seperti Indonesia.

Namun di balik semangat inovasi ini, ada tantangan yang tidak kecil. Industri konstruksi Indonesia masih menghadapi persoalan klasik: biaya, kesadaran akan keberlanjutan, dan keterbatasan teknologi di beberapa daerah. Ajang ini diharapkan menjadi pemicu perubahan menuju standar yang lebih tinggi.

Kolaborasi antara BlueScope dan IAI juga menunjukkan pentingnya sinergi antara industri dan profesi. Tanpa dukungan teknologi dari industri, inovasi arsitektur sulit berkembang. Sebaliknya, tanpa kreativitas arsitek, material canggih pun hanya akan menjadi potensi yang tidak tergarap.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.