Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Bahaya Hyper Parenting: Biarkan Anak Tumbuh dan Belajar Bebas

Desi Rossilawati
Jumat, 7 Februari 2025 | 01:55 WIB
Bagikan
Bahaya Hyper Parenting: Biarkan Anak Tumbuh dan Belajar Bebas
VISI.NEWS | BANDUNG - Hyper parenting merupakan pola asuh yang muncul akibat obsesi orangtua untuk memastikan kesuksesan anak di masa depan. Meskipun niat ini didasari oleh kasih sayang, pola asuh yang berlebihan dapat berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Sering kali disamakan dengan helikopter parenting, hyper parenting mencakup kontrol, perlindungan, serta intervensi berlebihan terhadap kehidupan anak. Beberapa ciri umum dari pola asuh ini antara lain:
  1. Mengatur Segala Aspek Kehidupan Anak: Orangtua menentukan segala hal mulai dari pilihan pakaian hingga jadwal kegiatan harian anak, yang mengakibatkan anak sulit mengekspresikan dirinya secara bebas.
  2. Selalu Mengkritik Anak: Orangtua fokus pada pencapaian akademik dan sering memberikan kritik yang berlebihan ketika anak mengalami kegagalan, alih-alih mendukung mereka untuk bangkit.
  3. Kekhawatiran Berlebihan: Kekhawatiran yang berlebihan membuat orangtua melarang anak mencoba berbagai hal, yang akhirnya menimbulkan tekanan dan berpotensi membuat anak memberontak.
  4. Memaksakan Kehendak: Orangtua cenderung menjadwalkan berbagai kegiatan tanpa memperhatikan kondisi fisik dan mental anak, dengan ambisi agar anak terus berprestasi.
Upaya untuk memastikan anak meraih kesuksesan di masa depan adalah hal yang wajar, tetapi obsesi berlebihan justru dapat menghambat perkembangan mereka. Anak membutuhkan ruang untuk bereksplorasi, belajar dari kegagalan, serta tumbuh dengan sehat baik secara fisik maupun mental. Orangtua sebaiknya menemukan keseimbangan dalam pola asuh, memberikan dukungan tanpa perlu merasa cemas berlebihan agar anak dapat berkembang secara optimal. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.