Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026

Bagaimana Pendidikan dan Regulasi Media Sosial Dapat Melawan Penolakan Terhadap Sains

ED
Jumat, 19 April 2024 | 10:07 WIB
Bagikan
Bagaimana Pendidikan dan Regulasi Media Sosial Dapat Melawan Penolakan Terhadap Sains

Oleh Geoffrey Dobson (360info)

MESKIPUN kehidupan virtual bisa menyenangkan dan informatif, namun juga bisa berbahaya. Misinformasi tentang ilmu iklim tersebar luas. Begitu pula dengan teori konspirasi dan disinformasi mengenai ilmu vaksin, seperti yang kita saksikan selama pandemi COVID-19.

Misinformasi ini tidak hanya melemahkan kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan namun juga secara aktif mengancam kesehatan masyarakat: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyebut keengganan terhadap vaksin, serta polusi udara dan kesehatan iklim, sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan global terbesar saat ini.

Bukti menunjukkan bahwa vaksin menyelamatkan nyawa, dan perubahan iklim sangat terkait dengan kenaikan suhu air, kenaikan permukaan laut, menyusutnya lapisan es di kutub, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kejadian cuaca yang lebih ekstrem. Tahun 2023 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat. Emisi gas rumah kaca mencapai rekor tertinggi. Bumi sedang menyuarakan panggilan daruratnya.

Namun ironisnya, seiring dengan semakin banyaknya bukti ilmiah yang meyakinkan, opini publik tampaknya semakin terpecah. Keragu-raguan dan penolakan ini tampaknya disebabkan oleh kesalahpahaman tentang cara kerja sains.

Vaksin menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun, dan dengan kemajuan teknologi, pandangan umum mengenai perubahan iklim telah berubah, dengan data yang jelas menunjukkan peningkatan CO2 dan suhu yang lebih tinggi terkait dengan pembakaran bahan bakar fosil.

Ini adalah sains yang sedang beraksi.

Namun penentangnya di media sosial dan media lain mengklaim bahwa bukti ilmiah keduanya masih belum pasti dan saling bertentangan. Sudut pandang oposisi sering kali didukung oleh beberapa ilmuwan vokal berjas putih yang menyebarkan informasi yang salah, ketidakpastian, dan keraguan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.