Bagaimana Jakarta Menggali Lubangnya Sendiri
Sebuah studi menunjukkan bagaimana dua penyebab utama penurunan permukaan tanah ini berhubungan langsung dengan penyebab terjadinya urbanisasi yang tidak merata di Jakarta – munculnya kota secara bertahap sebagai mesin untuk memeras keuntungan bagi kelompok elit yang sudah kaya dan memiliki koneksi yang baik.
Pengambilan air tanah secara berlebihan merupakan bentuk lanjutan dari perluasan vertikal kota, yang terdiri dari pemompaan sumur yang lebih dalam untuk memasok air yang diperlukan untuk memungkinkan kehidupan di atas tanah.
Ada korelasi yang jelas antara ekstraksi air tanah dan penurunan permukaan tanah. Pada tahun 1879 terdapat 42 sumur air tanah di dalam kota, sedangkan pada tahun 1968 terdapat 352 sumur. Artinya dalam kurun waktu 89 tahun jumlah sumur air tanah bertambah tiga kali lipat.
Namun, pada tahun 1998, terdapat 3.626 sumur air tanah yang terdaftar di Jakarta—10 kali lebih banyak.
Penurunan permukaan tanah di kota ini telah menjadi masalah sejak tahun 1970an, sejalan dengan periode dimana jumlah sumur air tanah yang terdaftar mengalami peningkatan terbesar.
Dalam hal bobot bangunan, lingkungan binaan di Jakarta berkembang secara horizontal dengan peningkatan tajam sejak tahun 1960an. Dari tahun 1770-an hingga 1960-an, kawasan terbangun modern di Jakarta hanya tumbuh sebesar 17,7 persen. Namun pada tahun 2014, bagian kota yang dirancang secara modern menempati 83,7 persen dari total wilayah kota, yang berarti dalam lima dekade, kota ini tumbuh hampir 65,5 persen.
Ini dimulai dengan kudeta
Terdapat pola yang jelas: penurunan tanah (mulai menjadi masalah pada tahun 1970an), peningkatan jumlah sumur air tanah dan perluasan bagian modern kota, semuanya meningkat secara signifikan sejak tahun 1960an. Semua perubahan ini dipengaruhi oleh konteks politik Indonesia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!