Asal Usul Berkat dan Alasan Orang NU Suka Kumpul Makan-Makan
Gus Muwafiq melanjutkan, makanan yang sudah didoakan Nabi itu menjadi makanan barakah. Kalau makanan itu tak habis dimakan, kemudian sebagian dibawa pulang ke rumah masing-masing.
“Sebab makanannya barakah, maka ketika dibawa pulang namanya berkat,” jelasnya, dalam bahasa Jawa.
Tokoh yang pernah menjadi asisten Gus Dur itu menegaskan, berkat itu kebiasaan para sahabat, bukan mengarang sendiri.
Menurutnya, meski makanan milik sendiri, jika sudah didoakan akan berubah statusnya menjadi makanan barakah. “Barangnya masih sama, statusnya berubah,” tegasnya.
Ia pun mencontohkan, seperti laiknya lelaki dan perempuan. Sepasang anak manusia itu kemudian pergi ke kantor urusan agama (KUA). Di KUA, mereka dinikahkan oleh penghulu: ankahtuka wazawajtuka, qabiltu nikahaha, barakallahu laka wa baraka ‘alaika. "Maka begitu keluar dari KUA, barangnya (orangnya) masih sama, celananya juga belum ganti, tapi statusnya berubah: jadi suami istri," terangnya dengan senyum ramah.
"Sebelum masuk KUA mencubit haram, men-jawil dosa. Setelah keluar dari KUA, status suami istri jadi halal. Mencubit halal, mencopot celana (pasangan sah)nya jadi halal,” ungkapnya disambut derai tawa hadirin.
Hadir dalam acara ini Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendi, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak, Bupati Madiun H Ahmad Dawami Ragil Saputro, dzurriyah Kiai Ageng Basyariyah, segenap kiai, tokoh, dan masyarakat umum.
@mpa/nu/kendi setiawan
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!