Arahan Prabowo soal Bahasa Perancis, Kemendikdasmen Kaji Arahan
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat./visi.news/ist.
VISI.NEWS | JAKARTA - Arahan Presiden Prabowo Subianto agar sekolah-sekolah di Indonesia mulai meningkatkan pembelajaran Bahasa Perancis membuka diskusi baru mengenai arah kebijakan pendidikan nasional di tengah dinamika hubungan internasional yang semakin berkembang. Meski belum menjadi kebijakan resmi, pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa penguasaan bahasa asing dipandang sebagai bagian dari strategi diplomasi dan penguatan daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyatakan pihaknya akan mempelajari serta menindaklanjuti arahan tersebut sebelum diterapkan dalam sistem pendidikan.
"Kami akan pelajari dan menindaklanjuti arahan Bapak Presiden," ujar Atip dalam keterangannya dikutip, Jumat (29/5/2026).
Arahan itu disampaikan Prabowo usai bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron di Paris, Kamis (28/5/2026). Dalam pernyataannya, Prabowo menilai pentingnya peningkatan pembelajaran Bahasa Perancis sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan kedua negara di masa depan.
"Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar Bahasa Perancis, melihat perkembangan dunia ke depan," ujar Prabowo seusai bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron di Paris, Perancis, Kamis (28/5/2026).
Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, gagasan tersebut bukan hal baru. Sebelumnya, pada Oktober 2025, Prabowo juga mendorong agar Bahasa Portugis menjadi salah satu bahasa prioritas di lingkungan pendidikan Indonesia setelah menerima kunjungan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva.
"Sebagai bukti bahwa kami memandang Brasil sangat penting, saya telah memutuskan bahwa bahasa Portugis akan menjadi salah satu prioritas bahasa disiplin pendidikan Indonesia," ujar Prabowo.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kebijakan bahasa asing tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan akademik, tetapi juga instrumen untuk mendukung hubungan strategis Indonesia dengan berbagai negara mitra. Dalam pernyataan sebelumnya, Prabowo bahkan menempatkan Bahasa Portugis sejajar dengan sejumlah bahasa asing yang telah lebih dahulu dikenal di sekolah, seperti Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Korea, Perancis, Jerman, Rusia, dan Spanyol.
Namun demikian, implementasi kebijakan tersebut masih memerlukan kajian menyeluruh. Pengembangan kurikulum, ketersediaan tenaga pengajar, kesiapan sekolah, hingga prioritas kebutuhan peserta didik menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhitungkan sebelum diterapkan secara luas.
Karena itu, sikap Kemendikdasmen yang memilih melakukan kajian terlebih dahulu menunjukkan bahwa arahan tersebut masih berada pada tahap evaluasi untuk menyesuaikan kebutuhan pendidikan nasional dengan visi diplomasi yang ingin dibangun pemerintah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!