Anggota KPU: Pemilu Demokratis Upaya Menjaga Kelestarian NKRI
VISI.NEWS | KENDARI - Berbicara tentang demokrasi dan perkembangan sistem politik, para ahli di dunia mempunyai semacam ‘cut off’.
Analoginya, jika sebuah negara telah melaksanakan pemilu secara demokratis sebanyak lima kali berturut-turut tanpa terinterupsi sekalipun oleh perilaku nondemokratis, maka negara tersebut wajib menjadi rujukan para ahli dunia untuk diobservasi, didalami, diteliti dalam konteks kajian-kajian ilmiah.
Mengapa negara tersebut demokrasinya kompatibel menjadi pertanyaan dari ahli politik seperti Pippa Norris.
Hal ini disampaikan Anggota KPU, August Mellaz saat menjadi pembicara kuliah umum dengan tema, “Peluang dan Tantangan Partisipasi Mahasiswa pada Pemilu Serentak 2024”, di Aula FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Kamis (20/10/2022).
Menurut Mellaz, perkembangan dunia terutama pasca 2012 hingga kini, dunia sedang mengalami apa yang disebut oleh para ahli politik dengan istilah regresi, decline, kemerosotan demokrasi, atau demokrasi yang dipersengketakan.
“Tetapi, pascareformasi tahun 1999 hingga saat ini, Indonesia telah menggelar sebanyak lima kali pemilu. Pemilu 2024 akan menjadi Pemilu ke-6 setelah era reformasi dengan berbagai dinamikanya. Artinya, secara prinsip proses demokrasi sudah berjalan,” kata Mellaz
Oleh karena itu, tantangan utama adalah bagaimana mengemas pembelajaran penting sebagai satu kisah sukses menjalankan demokrasi dan berkomitmen, termasuk mengelola demokrasi dalam situasi keberagaman yang sangat luar biasa.
Tetapi, Indonesia sampai saat ini, jika dibandingkan dengan negara-negara lain, tetap berdiri kokoh dan tetap berkomitmen dengan segala tantangannya untuk terus menumbuhkembangkan iklim demokrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!