Anak Krakatau Masih Siaga, Lima Jurnalis Terus Dicari

ED
PN
Jumat, 11 September 2026 | 11:35 WIB
Bagikan
Anak Krakatau Masih Siaga, Lima Jurnalis Terus Dicari

Dari sisi kegempaan, aktivitas yang berkaitan dengan vulkanisme dangkal, seperti gempa Low Frequency dan Hybrid/Fase Banyak, masih mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun sejak berakhirnya periode erupsi menerus. Nilai perataan amplitudo atau RSAM yang sempat meningkat pada Sabtu, 5 September 2026, juga kembali menurun sejak Minggu, 6 September 2026.

Namun, kondisi berbeda terlihat pada gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dalam. Aktivitas gempa tersebut justru cenderung meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu indikasi adanya suplai magma dari kedalaman menuju sistem Gunung Anak Krakatau.

Dinamika tersebut membuat potensi terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu berikutnya masih dinilai tinggi oleh Badan Geologi. Karena itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Pada periode pengamatan 10 hingga 11 September 2026, kondisi Gunung Anak Krakatau terpantau mulai dari jelas hingga tertutup kabut. Cuaca di kawasan gunung api tersebut berkisar cerah hingga mendung dengan angin bertiup lemah hingga sedang menuju arah utara dan barat laut.

Pengamatan visual juga masih menunjukkan adanya aktivitas erupsi. Namun, tinggi kolom erupsi tidak dapat teramati karena kondisi visual di kawasan gunung api.

Pada periode pengamatan yang sama tercatat satu kali gempa erupsi, 21 kali gempa Low Frequency, 13 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, tremor menerus, 28 kali gempa Vulkanik Dangkal, serta 18 kali gempa Vulkanik Dalam. Data kegempaan tersebut menunjukkan bahwa sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau masih aktif dan memerlukan pemantauan berkelanjutan.

Berton menjelaskan, potensi bahaya yang dapat ditimbulkan aktivitas Gunung Anak Krakatau antara lain lontaran batu pijar yang dapat disertai hujan abu dengan intensitas lebat. Apabila kembali terjadi erupsi menerus, potensi bahaya juga dapat berupa aliran lava.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan pencarian lima jurnalis yang masih dinyatakan hilang. Selain menghadapi medan perairan Selat Sunda, operasi pencarian harus memperhitungkan aktivitas gunung api yang masih berada pada tingkat Siaga.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.