Anak Krakatau Masih Siaga, Lima Jurnalis Terus Dicari

ED
PN
Jumat, 11 September 2026 | 11:35 WIB
Bagikan
Anak Krakatau Masih Siaga, Lima Jurnalis Terus Dicari

VISI.NEWSBahaya erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih mengancam. Hingga Jumat, 11 September 2026, aktivitas gunung api tersebut tetap berada pada Level III atau Siaga berdasarkan hasil analisis Badan Geologi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah masih berlangsungnya operasi pencarian terhadap lima jurnalis yang hilang ketika menjalankan tugas jurnalistik di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Tim gabungan terus melakukan pencarian dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas vulkanik dan potensi bahaya di kawasan tersebut.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya sempat mengalami periode erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Periode tersebut berlangsung sekitar 25 jam.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan berakhirnya erupsi menerus tidak berarti seluruh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berhenti.

“Setelah periode erupsi menerus tersebut berakhir, hingga Jumat (11/9) pukul 06.00 WIB masih tercatat 14 kali erupsi Strombolian,” ungkap Berton dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 11 September 2026.

Menurut Berton, erupsi menerus merupakan aktivitas erupsi yang berlangsung secara berkesinambungan dalam periode waktu yang panjang. Sementara erupsi Strombolian terjadi secara episodik melalui letusan-letusan yang berlangsung secara terpisah.

Dengan demikian, perubahan dari erupsi menerus menjadi letusan Strombolian tidak dapat diartikan sebagai berhentinya aktivitas vulkanik. Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas erupsi dan dinamika vulkanisme yang harus terus dipantau.

Dalam perkembangan terakhir, aktivitas erupsi masih berlangsung dalam bentuk letusan Strombolian. Badan Geologi untuk sementara menginterpretasikan kembali munculnya karakteristik erupsi Strombolian sebagai berakhirnya periode erupsi menerus yang berlangsung cukup panjang sebelumnya.

Dari sisi kegempaan, aktivitas yang berkaitan dengan vulkanisme dangkal, seperti gempa Low Frequency dan Hybrid/Fase Banyak, masih mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun sejak berakhirnya periode erupsi menerus. Nilai perataan amplitudo atau RSAM yang sempat meningkat pada Sabtu, 5 September 2026, juga kembali menurun sejak Minggu, 6 September 2026.

Namun, kondisi berbeda terlihat pada gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dalam. Aktivitas gempa tersebut justru cenderung meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu indikasi adanya suplai magma dari kedalaman menuju sistem Gunung Anak Krakatau.

Dinamika tersebut membuat potensi terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu berikutnya masih dinilai tinggi oleh Badan Geologi. Karena itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Pada periode pengamatan 10 hingga 11 September 2026, kondisi Gunung Anak Krakatau terpantau mulai dari jelas hingga tertutup kabut. Cuaca di kawasan gunung api tersebut berkisar cerah hingga mendung dengan angin bertiup lemah hingga sedang menuju arah utara dan barat laut.

Pengamatan visual juga masih menunjukkan adanya aktivitas erupsi. Namun, tinggi kolom erupsi tidak dapat teramati karena kondisi visual di kawasan gunung api.

Pada periode pengamatan yang sama tercatat satu kali gempa erupsi, 21 kali gempa Low Frequency, 13 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, tremor menerus, 28 kali gempa Vulkanik Dangkal, serta 18 kali gempa Vulkanik Dalam. Data kegempaan tersebut menunjukkan bahwa sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau masih aktif dan memerlukan pemantauan berkelanjutan.

Berton menjelaskan, potensi bahaya yang dapat ditimbulkan aktivitas Gunung Anak Krakatau antara lain lontaran batu pijar yang dapat disertai hujan abu dengan intensitas lebat. Apabila kembali terjadi erupsi menerus, potensi bahaya juga dapat berupa aliran lava.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan pencarian lima jurnalis yang masih dinyatakan hilang. Selain menghadapi medan perairan Selat Sunda, operasi pencarian harus memperhitungkan aktivitas gunung api yang masih berada pada tingkat Siaga.

Badan Geologi menetapkan masyarakat, termasuk pengunjung dan wisatawan, tidak diperbolehkan memasuki ataupun melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Larangan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat akibat potensi material vulkanik yang dapat terlontar dari kawasan gunung api.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik sehingga informasi resmi dari otoritas terkait menjadi rujukan utama.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik, BNPB mengimbau agar aktivitas di luar rumah dikurangi. Apabila harus melakukan kegiatan di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang mengaitkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami apabila informasi tersebut tidak berasal dari kanal resmi pemerintah.

Aktivitas masyarakat di wilayah yang tidak berada dalam zona bahaya dapat berlangsung seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan BPBD setempat. Pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi di sekitar Selat Sunda.

Di tengah pencarian lima jurnalis yang masih berlangsung, keselamatan personel pencarian dan masyarakat tetap menjadi perhatian utama. Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada Level III menunjukkan bahwa kawasan tersebut belum sepenuhnya aman dari ancaman vulkanik.

Karena itu, masyarakat, wisatawan, maupun pekerja media yang melakukan aktivitas di sekitar Selat Sunda diharapkan mematuhi seluruh batas aman yang ditetapkan otoritas. Informasi mengenai perkembangan erupsi, kondisi pencarian, maupun potensi bahaya juga perlu diperoleh dari sumber resmi untuk mencegah kepanikan dan penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.