Amalan Utama Bulan Safar: Sedekah hingga Puasa Sunnah
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 25 Juli 2025 | 23:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram. Menurut buku 'Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah' karya Ida Fitri Shohibah, kata Safar memiliki arti kosong, meskipun ada juga yang mengartikannya sebagai kuning.
Penamaan bulan ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab dahulu yang sering meninggalkan rumah untuk berperang atau menyerang musuh di bulan tersebut. Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa Safar merujuk pada sejenis angin panas yang dapat menyebabkan sakit pada bagian perut.
Selain itu, masyarakat Arab Jahiliyah juga percaya bahwa Safar adalah nama dari suatu penyakit berbahaya yang bersarang dalam perut akibat ulat besar. Kepercayaan ini membuat bulan Safar dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan dan keburukan. Padahal, dalam ajaran Islam, semua bulan memiliki kebaikan dan tidak ada bulan yang diistimewakan membawa kesialan.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar. Beliau bersabda,
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)
Meski demikian, ada beberapa amalan yang dianjurkan bagi umat Islam di bulan Safar untuk mengisinya dengan ibadah. Dalam buku 'Kalender Ibadah Sepanjang Tahun' karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid disebutkan lima amalan utama bulan Safar.
Pertama, sedekah, yang dapat dilakukan kapan saja termasuk bulan Safar. Rasulullah SAW bersabda,
"Setiap yang baik itu sedekah." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah).
Kedua, puasa sunnah, terutama puasa Senin Kamis, serta puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 Safar.
Ketiga, membaca doa bulan Safar. Meski tidak ada doa khusus dari Rasulullah SAW, doa yang berasal dari riwayat Abdullah bin Amr RA ini dishahihkan oleh Al Albani. Doanya berbunyi,
اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka Artinya: "Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu." (HR Ahmad) Keempat, mengerjakan ibadah rutin, seperti salat wajib, salat sunnah Dhuha, Tahajud, Witir, Rawatib, dan ibadah sunnah lainnya untuk menjaga kedekatan kepada Allah. Kelima, memperbanyak doa dan zikir. Sebagaimana disebut dalam surah Al-Ahzab ayat 41-42, Allah SWT memerintahkan kaum mukmin untuk selalu mengingat-Nya sebanyak-banyaknya dan bertasbih pada waktu pagi dan petang. Melalui amalan-amalan tersebut, umat Islam dapat memaknai bulan Safar dengan positif, menepis keyakinan jahiliyah yang menganggap Safar sebagai bulan sial, serta mengisinya dengan ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. @ffrBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!