Alumni SMAN Cimindi-13 Bandung dan Kisah Hidup di Jantung Rimba Kareumbi
Bagi Apung, Kareumbi bukan sekadar tempat kerja, tapi rumah. Rumah bagi dirinya, bagi para relawan penjaga hutan, dan bagi ratusan satwa yang masih bertahan di dalamnya. Ada rusa endemik Jawa yang kini populasinya terus dijaga. “Tahun 2023 ada 49 ekor dari awalnya 20. Tapi tahun 2024 memang sempat menurun lagi,” tuturnya. Di antara rerumputan dan suara serangga, kamera trap merekam kehidupan liar yang sulit dijumpai di tempat lain: elang yang berputar di udara, kijang yang melintas cepat, dan kadang, sosok misterius tiga ekor macan kumbang hitam.
“Macan itu pemangsa alami, biasanya makan rusa yang tua atau sakit,” jelas Apung sambil menunjukkan hasil kamera trap. Ada sekitar 80 kamera yang dipasang di berbagai titik hutan, 45 di antaranya di area penangkaran rusa. Gambar-gambar itu bukan sekadar dokumentasi, tapi bukti bahwa hutan masih hidup, dan penjaganya masih setia.
Di tengah kisah konservasi itu, hadir pula semangat baru dari para alumni SMAN Cimindi. Mereka datang bukan hanya membawa nostalgia, tapi juga niat untuk meninggalkan jejak kebaikan. Beta Pratista, ketua panitia reuni akbar sekolah tersebut, menyebutnya sebagai “Wali Pohon Cimindi”. “Bagi kami, sekolah kami tinggal nama. Kami ingin punya monumen dan momentum—bentuknya ya pohon. Pohon yang tumbuh, hidup, dan terus memberi,” ujarnya.
Mereka menanam pohon bukan sekadar simbol. Ia menjadi ruang belajar tentang cinta lingkungan dan pelestarian. “Bukan cuma acara reuni, tapi juga pendidikan konservasi,” lanjut Beta. Dari rencana awal di Kareumbi, kegiatan menanam itu akan berlanjut ke Ciburial di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dengan fokus pada pohon-pohon berumur panjang. “Kami ingin sesuatu yang long life, yang bisa jadi kenangan sekaligus warisan,” ujarnya.
Apung menyambut semangat itu dengan senyum. Baginya, kolaborasi seperti ini adalah napas baru bagi hutan. “Kalau hanya petugas, tak cukup. Tapi kalau ada masyarakat, alumni yang peduli, hutan ini bisa bertahan,” katanya. Sore itu, di sela-sela suara burung dan desir angin, ia tampak lega—seolah yakin hutan Kareumbi tak akan sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!