Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026

Alumni SMAN Cimindi-13 Bandung dan Kisah Hidup di Jantung Rimba Kareumbi

ED
Selasa, 28 Oktober 2025 | 22:25 WIB
Bagikan
Alumni SMAN Cimindi-13 Bandung dan Kisah Hidup di Jantung Rimba Kareumbi

VISI.NEWS | SUMEDANG - Di antara kabut tipis yang turun perlahan dari lereng pegunungan, sosok Dian Purnama—akrab disapa Apung—berdiri tenang. Tatapannya menembus rimbunnya pepohonan di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK), kawasan konservasi unik yang membentang di tiga wilayah: Bandung, Garut, dan Sumedang. Luasnya mencapai 12.420 hektar, satu-satunya kawasan di Jawa-Bali yang masih mengizinkan aktivitas berburu secara legal. Namun berburu di sini bukan perkara bebas. “Semua harus berizin, dan satwanya pun harus terdata. Tidak bisa sembarangan,” ucap Apung memulai pembicaraan saat menerima rombongan Panitia Reuni Akbar SMAN Cimindi-13 Bandung di persinggahan TBMK, Selasa (28/10/2025) pagi.

Rombongan panitia yang hadir bersama Taryan Setiawan, selalu ketum itu, antara lain Beta Pratista, Kusuma Rini, Nurhayati, Ika Kartika, Tendy K. Sumantri (Alumni'83), Ketua Keluarga Besar Alumni (KBA) Gagan Wirahma ('87), Kinanti Eva ('92), Vania Malinda ('09), Ramadhan ('88), Agus Ir ('91), Heri ('97), Essa ('97), dll.

TBMK bukan hanya hutan, tapi juga sejarah panjang antara manusia dan alam. “Tempat kita berdiri ini dulu wilayah Garut, dulu sempat ada PT yang mengelola, tahun 1998 sampai 2000,” kisah Apung.

Kala itu, kawasan ini sempat rusak parah. Ada illegal logging seluas 300 hektar, meninggalkan luka yang dalam di rimba Kareumbi. Di antara batang-batang rebah, masih tersisa kawasan yang rusak. Maka di kawasan yang rusak itu dibuka donasi untuk wali pohon - sebutan bagi pepohonan besar yang diyakini menjadi penjaga alam. “Pohon- pohon itu ditebang waktu ilegal logging, dan itu sejarah yang kami jaga,” katanya.

Apung tahu betul setiap jengkal hutan ini. Dari pagar betis peninggalan masa DI/TII hingga bangunan tua peninggalan zaman Ibrahim Adjie. Semua menjadi saksi betapa kawasan ini terus berjuang untuk bertahan. Bersama Wanadri, lembaga pencinta alam legendaris, TBMK menjalankan perjanjian kerja sama (PKS) Pemulihan Ekosistem. “Kami kerja sama setiap lima tahun. Sekarang sudah masuk kerja sama ketiga,” ujar Apung.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.