Allianz: Tertanggung Makin Tangguh Hadapi Serangan Siber

ED
Rabu, 24 September 2025 | 17:46 WIB
Bagikan
Allianz: Tertanggung Makin Tangguh Hadapi Serangan Siber

Sektor Ritel Jadi Target Baru Serangan Siber

Sektor ritel menjadi salah satu yang paling rentan terhadap insiden siber, dan kini masuk dalam tiga besar industri yang paling terdampak menurut analisis klaim besar dalam lima tahun terakhir. Sektor ini menyumbang 9% dari total nilai klaim, setelah manufaktur (33%) dan jasa profesional (18%). Perusahaan ritel sering memiliki pendapatan besar, menangani banyak data pribadi, dan sangat rentan terhadap gangguan operasional—semuanya menjadikan mereka sasaran ideal untuk tuntutan pemerasan. Banyaknya jumlah staf, pemasok, dan sistem TI menciptakan permukaan serangan yang luas.

Lanskap Ancaman yang Meluas: Klaim Non-Serangan dan Rantai Pasok Digital

Lanskap risiko yang berkembang juga memperluas cakupan potensi kerugian bagi perusahaan. Klaim non-serangan, seperti pengumpulan dan pemrosesan data yang salah serta kegagalan teknis, menyumbang rekor 28% dari nilai klaim besar pada 2024. Di saat yang sama, organisasi menghadapi tantangan baru akibat meningkatnya ketergantungan pada rantai pasok digital, dampak dari perluasan regulasi privasi, dan makin banyaknya serangan rekayasa sosial, termasuk penyamaran canggih yang menargetkan staf untuk mendapatkan akses ke sistem perusahaan.

Asia Pasifik: Ketahanan Siber Masih Tertinggal di Tengah Ancaman yang Meningkat

Kawasan Asia Pasifik mengalami serangan siber terbanyak sepanjang 2024, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya dan menyumbang 34% dari total serangan global, menurut IBM. Hal ini didukung oleh data AON yang mencatat kenaikan 22% klaim asuransi siber di Asia Pasifik selama 2024. Ransomware menjadi kekhawatiran utama dan menyumbang seluruh kerugian siber Allianz Commercial di Asia pada paruh pertama 2025.

“Banyak perusahaan memilih Asia sebagai pusat rantai pasok kompleks serta lokasi outsourcing proses bisnis penting. Meskipun organisasi menyadari risiko pihak ketiga dan rantai pasok, dalam praktiknya mitigasi risiko ini sangat menantang dan membutuhkan kolaborasi lintas fungsi internal—mulai dari TI, pengadaan, hingga hukum dan kepatuhan. Selama beberapa tahun terakhir, kami melihat peningkatan klaim yang disebabkan oleh risiko rantai pasok TI, baik karena serangan jahat maupun kegagalan teknis. Akibatnya, terdapat peningkatan permintaan asuransi siber yang didorong oleh kontrak. Perusahaan besar di Asia juga menunjukkan peningkatan ketahanan siber dan minat terhadap solusi transfer risiko siber, meskipun cakupan asuransi mereka secara umum masih lebih rendah dibandingkan rekan mereka di Amerika atau Eropa,” jelas Karlis Trops, Kepala Cyber & Tech Professional Indemnity Allianz Commercial Asia.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.