Allianz: Tertanggung Makin Tangguh Hadapi Serangan Siber
“Beberapa insiden ransomware memang menjadi berita utama tahun ini, tetapi secara keseluruhan kami melihat bahwa kerugian yang diasuransikan dari serangan tersebut menurun sepanjang 2025. Kemampuan deteksi dan respons yang lebih baik dari pihak tertanggung membantu menghentikan serangan pada tahap awal. Setiap langkah yang berhasil dilalui oleh penyerang, dan setiap menit mereka berada dalam sistem, dampaknya meningkat secara eksponensial. Biaya dari serangan ransomware yang berkembang hingga pencurian dan enkripsi data bisa 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan insiden yang terdeteksi dan ditangani sejak dini,” jelas Michael Daum, Kepala Global Klaim Siber di Allianz Commercial.
Ransomware Tetap Jadi Penyebab Utama Klaim Asuransi Siber
Serangan ransomware menyumbang sekitar 60% dari nilai klaim besar pada paruh pertama tahun 2025. Insiden besar yang terjadi di berbagai industri menunjukkan bahwa ancaman ini masih terus berlangsung, meskipun ada tanda-tanda bahwa koordinasi internasional oleh aparat penegak hukum dan penguatan keamanan siber oleh korporasi besar mulai memberikan dampak positif. Penyerang juga kini mengalihkan fokus ke perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, yang umumnya kurang tangguh dibanding perusahaan multinasional, serta ke wilayah lain seperti Asia dan Amerika Latin. Ransomware terlibat dalam 88% pelanggaran data pada usaha kecil dan menengah, dibandingkan 39% pada perusahaan besar, menurut Verizon.
Seiring peningkatan kemampuan respons perusahaan besar, dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran dari serangan ransomware murni (pemerasan) ke double extortion atau pemerasan ganda, yang mencakup pencurian data. Sekitar 40% dari nilai klaim besar selama paruh pertama 2025 mencakup pencurian data, naik dari 25% sepanjang tahun 2024. Kerugian yang melibatkan pencurian data bernilai lebih dari dua kali lipat dibandingkan insiden tanpa pencurian data. Biaya rata-rata global untuk pelanggaran data mencapai rekor hampir US$5 juta pada 2024, didorong oleh dampak dari regulasi privasi data yang semakin ketat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!