Alfiyanto, Seniman Tari yang Mendedikasikan Diri untuk Anak-Anak Ciganitri
Literasi Tubuh Wajiwa sebuah usaha untuk menggiring anak-anak ke wilayah kreativitas tari kontemporer.
Setelah melalui perjalanan panjang dalam aktivitas dan kreativitas kesenian dengan banyak rintangan-rintangan dan cobaan sehingga memperkuat keyakinan dan memberanikan diri untuk menyebutkan bahwa proses kreatif tari kontemporer merupakan ruang edukasi yang sangat luar biasa, terutama bagi anak-anak.
Proses ini tidak menjadikan anak-anak sebagai pengikut, tapi harus seperti pelatihnya, kalau tidak seperti pelatihnya berarti salah.
Pada proses Literasi Tubuh Wajiwa dan proses kreatif tari kontemporer Wajiwa membuka ruang yang sangat terbuka kepada anak-anak, mereka mencari, menemukan, dan mengaktualkan. Proses ini menggiring emosi menjadi ekspresi dan kemudian menjadi aktualisasi diri mereka. Ada dua nilai yang dicapai dalam proses di Wajiwa, yaitu nilai artistik (seni/karya seni) dan nilai kehidupan.
Untuk membangun kepekaan terhadap lingkungan Alfiyanto juga tidak segan-segan mengajak anak didiknya berlatih di sawah, bergulat dengan air dan lumpur, “Kami melatih di sawah agar anak-anak benar-benar merasakan sawah, memperkaya pengalaman tubuhnya dengan melakukan eksplotasi gerak dengan bebasnya,” ungkapnya Alfianto Wajiwa ini.
Wajiwa bergerak di gendre tari Kontemporer yang selalu berpijak pada budaya lokal dan mengakar di tanah sendiri. Seluruh siswa Wajiwa sebelum di giring keranah tari kontemporer mereka dibekali terlebih dahulu tari tradisi (Sunda), mulai dari usia anak-anak sampai dewasa. Proses kreativitas tari kontemporer sangat besar manfaatnya bagi anak-anak, disamping untuk melahirkan penari yang memiliki rasa gerak, juga menggali kecerdasan-kecerdasan tubuh, fikir dan daya imajinasi anak, sehingga tanpa kita sadari proses ini juga bermanfaat dalam pembentukan karakter anak. Metode Literasi Tubuh Wajiwa sudah sering di publikasikan dan di uji coba ke berbagai daerah dan berbagai event, baik dalam bentuk jurnal, workshop maupun seminar.
Alfiyanto pernah melakukan tari 12 jam tanpa henti dua kali di Bandung, serta menari 24 jam tanpa henti sebanyak 4 kali, yaitu di Bandung (dua kali), Surakarta (satu kali), dan Toraja (satu kali).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!