Alex Indra: Bulog Butuh Strategi Keluar-Masuk Beras Lebih Terencana
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 29 Mei 2025 | 15:15 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Ketua Panitia Kerja (Panja) Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menekankan pentingnya kapasitas bisnis yang kuat bagi para top manajer di Badan Urusan Logistik (Bulog), terutama dalam membaca dinamika pasar dan merancang strategi penyerapan hasil panen nasional secara efektif.
“Cara pandang kita dalam mengelola potensi sektor pertanian, harus segera diperbaharui. Sehingga, Asta Cita Presiden Prabowo di sektor ketahanan pangan, memang akan memberikan kemaslahatan bagi 29,34 juta petani (Data Sensus Pertanian 2023) yang ada di negara ini,” ujar Alex, Kamis (29/5/2025).
Pernyataan tersebut menanggapi rencana pemerintah membangun 25 ribu gudang improvisasi tahan lama yang diungkapkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai langkah taktis mengantisipasi lonjakan produksi pangan. Tercatat, stok beras pemerintah per Mei 2025 mencapai rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir, yakni 3,5 juta ton.
“Hari ini, sebagian tugas itu telah dilaksanakan dengan baik oleh Bulog. Gabah petani telah diserap dengan harga wajar. Stok beras juga telah mencatatkan rekor tertingginya sepanjang sejarah,” terang Alex.
Ia menyebut Bulog telah menjalankan tugasnya cukup baik dalam menyerap gabah petani dengan harga wajar dan menjaga stok. Tapi saat gejolak harga beras terjadi, perlu intuisi bisnis dari jajaran manajemen Bulog agar solusi yang diambil tetap berpihak pada petani dan masyarakat.
Pernyataan ini muncul setelah Badan Pangan menyampaikan kekhawatiran atas naiknya harga beras nasional. Data Panel Harga Badan Pangan per 28 Mei mencatat harga rata-rata beras eceran mencapai Rp13.805/kg — naik 10,44% di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Sementara, beras premium dan SPHP juga sudah melebihi HET masing-masing 4,87% dan 1,01%.
“Di titik ini lah, intiusi bisnis top manajer Bulog diperlukan. Sehingga, ketika terjadi gejolak harga beras, pilihan untuk menjinakannya bukan lah sebuah opsi,” tegas anggota DPR RI Dapil I Sumatera Barat ini.
Alex mengatakan, beras merupakan komoditi yang gampang rusak. Durasi waktu penyimpanan, akan sangat memengaruhi kualitas.
“Bulog harus segera merumuskan aliran keluar dan masuk beras dengan lebih terencana. Dengan begitu, harga di tingkat petani selalu terjaga, kebutuhan pangan nasional juga bisa terpenuhi,” sambungnya.
Namun menurut Alex, pembangunan gudang baru justru bisa bertolak belakang dengan semangat efisiensi.
Lebih jauh, Alex juga mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, untuk segera merumuskan peta jalan menjadikan Indonesia sebagai lumbung beras dunia. Dengan kondisi lahan pertanian yang luas dan iklim yang mendukung, menurutnya, target ini bukan hal yang mustahil.
Ia mencontohkan inovasi petani Sumatera Barat seperti metode 'Sawah Pokok Murah' yang mampu menekan biaya produksi secara signifikan, sebagai potensi besar yang perlu mendapat dukungan riset berkelanjutan.
“Peta jalan jadi lumbung beras dunia ini, mesti didukung riset berkelanjutan terhadap berbagai inovasi yang telah sukses dilakukan petani,” terang Alex.
“Kita semua harus terus berkolaborasi, baik pemerintah, dunia usaha dan perguruan tinggi. Kami di DPR tentu akan mendukungnya secara penuh,” pungkasnya. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!