Ahmad Labib Minta Freeport Perhatikan Keseimbangan Lingkugan
Dalam rapat tersebut, Labib juga menyoroti insiden kecelakaan tambang yang mengakibatkan tujuh pekerja meninggal dunia. Ia menilai meskipun mitigasi sudah dilakukan, kecelakaan tetap bisa terjadi jika pengelolaan alam tidak dilakukan secara bijak.
“Alam selalu punya cara memberi peringatan kepada kita, apalagi jika dikelola dengan angkuh dan pongah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masih terdapat ketidakadilan dalam pengelolaan tambang, termasuk kuatnya indikasi praktik oligarki. Masyarakat, menurutnya, hanya menerima “permen-permen” sementara pengelolaan tetap didominasi pihak tertentu.
Labib juga meminta penjelasan terkait nasib kawasan tambang yang telah berubah menjadi kawah besar. Ia mempertanyakan apa yang akan diwariskan kepada generasi mendatang jika lahan-lahan tersebut tidak dapat dikembalikan seperti semula.
Selain itu, ia menyoroti limbah berbahaya seperti arsenik serta berbagai jenis buangan lain yang berpotensi merusak lingkungan dalam jangka panjang.
Terkait pembangunan smelter dengan nilai investasi hampir Rp50 triliun, Labib menyoroti operasional yang tidak stabil. Smelter sempat beroperasi pada Juni 2024, namun kemudian berhenti akibat kecelakaan dan kebakaran pada 2025. Ketika kembali beroperasi pada Mei–Juni, fasilitas tersebut sempat kembali mengalami pemberhentian pada September.
“Ini akhirnya menjadi pertanyaan, dan ini yang didapat masyarakat,” tegas Labib.
Menutup pernyataannya, Labib meminta Freeport menyampaikan penjelasan rasional, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai strategi mengurangi dampak lingkungan sekaligus menjaga harmoni dengan alam. Ia menegaskan bahwa eksplorasi sumber daya alam hari ini tidak boleh menjadi bencana bagi generasi mendatang. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!