AFJ Perkuat Peran Media dalam Mendorong Jurnalisme Berperspektif Kesejahteraan Hewan

ED
Sabtu, 1 November 2025 | 19:44 WIB
Bagikan
AFJ Perkuat Peran Media dalam Mendorong Jurnalisme Berperspektif Kesejahteraan Hewan

Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber utama. Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, M.P., Guru Besar Universitas Gadjah Mada, memaparkan konsep animal welfare dan sentient being, serta pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam praktik jurnalisme.

Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, M.P. menjelaskan bahwa istilah sentient being atau makhluk berakal mengacu pada entitas hidup yang memiliki kapasitas untuk merasakan, melakukan persepsi, dan mengalami subjektivitas. Dalam wacana akademis, konsep ini memiliki posisi penting dalam filsafat, etika hewan, dan ilmu kognitif, karena menegaskan adanya pertimbangan moral yang seharusnya diberikan kepada manusia maupun hewan non-manusia.

Lebih lanjut, Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, M.P. menekankan bahwa pengakuan terhadap makhluk berakal juga memiliki relevansi kuat dalam dunia jurnalisme.

“Dengan memahami hewan sebagai makhluk berakal, jurnalis dapat memastikan pelaporan yang lebih etis dan berempati. Hal ini mencegah objektifikasi subjek, mendorong penceritaan yang manusiawi, serta menumbuhkan kesadaran publik akan kesejahteraan dan hak asasi—baik manusia maupun hewan. Mengakui keberadaan makhluk berakal berarti tidak hanya berkontribusi pada akurasi pemberitaan, tetapi juga pada tanggung jawab moral untuk membentuk masyarakat yang lebih adil dan penuh kasih,” tutur Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, M.P.

Sementara itu, Riza Salman dari Mongabay Indonesia berbagi praktik peliputan lingkungan dan peternakan dari perspektif kesejahteraan hewan. Dalam sesinya, Riza membahas berbagai aspek penting dalam penulisan, mulai dari menemukan angle cerita, menjaga etika dan sensitivitas dalam peliputan hewan, melakukan pengumpulan data dan verifikasi, mengaitkan kasus lokal dengan isu global, hingga membangun narasi yang kuat dan menyentuh.

“Menulis tentang hewan bukan sekadar melaporkan, tapi mengakui bahwa mereka pun hidup, merasa, dan berhak didengar,” tutur Riza Salman.

Melalui sesi diskusi dan Focus Group Discussion (FGD), para peserta diajak untuk menyusun rencana liputan yang menempatkan hewan sebagai subjek dalam cerita, bukan sekadar objek produksi. AFJ berharap kegiatan ini menjadi langkah awal terbentuknya jejaring jurnalis peduli kesejahteraan hewan, yang dapat memperkuat narasi publik menuju dunia yang lebih berkeadilan bagi semua makhluk hidup.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.