Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Ini Cara Mengatasinya
Ilustrasi./visi.news/yoona.
Jika wajah mengalami iritasi, Arini menyarankan untuk sementara mengurangi penggunaan bahan aktif yang berpotensi membuat kulit semakin sensitif, seperti retinoid, AHA/BHA, peeling, maupun scrub, sampai kondisi kulit kembali tenang.
Pelembap untuk Menjaga Skin Barrier
Dalam upaya pencegahan, Arini menyebut proteksi fisik lebih penting daripada penggunaan obat. Masyarakat dapat menggunakan pelembap sederhana tanpa pewangi yang mendukung skin barrier.
Pelembap tersebut, misalnya, mengandung ceramide, glycerin, atau bahan humektan dan emolien lainnya.
“Pelembap sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang bersih dan diberi waktu agar menyerap. Tidak perlu menggunakan antibiotik atau kortikosteroid sebagai pencegahan. Jika kemudian timbul dermatitis yang cukup berat, obat antiinflamasi topikal mungkin diperlukan, tetapi sebaiknya berdasarkan pemeriksaan dokter,” katanya.
Abu Vulkanik Berbeda dengan Debu Biasa
Arini juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Meski demikian, masyarakat diimbau tidak panik.
Dari sisi kesehatan kulit, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu sehari-hari. Abu vulkanik terdiri atas partikel batuan dan mineral yang sangat halus. Sebagian partikel tersebut memiliki permukaan yang abrasif, sementara abu yang masih segar juga dapat membawa komponen yang bersifat asam.
“Karena itu prinsip terpenting adalah mengurangi kontak langsung dengan abu, terutama ketika konsentrasi abu di udara sedang tinggi. Dampak terhadap saluran napas dan mata umumnya menjadi perhatian utama, tetapi kulit juga dapat mengalami iritasi,” tambahnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!