Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Ini Cara Mengatasinya 7 Sep 2026 Teras Cihampelas Ditata Ulang 2027, Dedi Siapkan Solusi untuk 15 Pedagang 7 Sep 2026 Soal Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Yahya Zaini Minta Kemenkes Siapkan Fasilitas Kesehatan 7 Sep 2026 Wanita Sukabumi Jatuh dari Jembatan Gegara Gamis Terlilit Rantai 7 Sep 2026 Dipecat dari Polisi, Briptu MD Ungkap Pejabat Polda Jambi yang Terima Aliran Dana 7 Sep 2026 Harga Masker di Tanah Abang Tembus Rp40 Ribu per Boks 7 Sep 2026 Persib Hadapi Persija dan Seoul FC Usai Tekuk PSM 7 Sep 2026 Manfaat Kacang-kacangan untuk Kesehatan Saat Diet 7 Sep 2026 382 Jamaah Umrah Dialihkan dari Aceh ke Bandara Kertajati 7 Sep 2026 Bandara Ahmad Yani Semarang Beroperasi 24 Jam Imbas Erupsi Anak Krakatau 7 Sep 2026 Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Ini Cara Mengatasinya 7 Sep 2026 Teras Cihampelas Ditata Ulang 2027, Dedi Siapkan Solusi untuk 15 Pedagang 7 Sep 2026 Soal Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Yahya Zaini Minta Kemenkes Siapkan Fasilitas Kesehatan 7 Sep 2026 Wanita Sukabumi Jatuh dari Jembatan Gegara Gamis Terlilit Rantai 7 Sep 2026 Dipecat dari Polisi, Briptu MD Ungkap Pejabat Polda Jambi yang Terima Aliran Dana 7 Sep 2026 Harga Masker di Tanah Abang Tembus Rp40 Ribu per Boks 7 Sep 2026 Persib Hadapi Persija dan Seoul FC Usai Tekuk PSM 7 Sep 2026 Manfaat Kacang-kacangan untuk Kesehatan Saat Diet 7 Sep 2026 382 Jamaah Umrah Dialihkan dari Aceh ke Bandara Kertajati 7 Sep 2026 Bandara Ahmad Yani Semarang Beroperasi 24 Jam Imbas Erupsi Anak Krakatau 7 Sep 2026

Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Ini Cara Mengatasinya

Desi Rossilawati
Senin, 7 September 2026 | 18:52 WIB
Bagikan
Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Ini Cara Mengatasinya

Ilustrasi./visi.news/yoona.

VISI.NEWS - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya perlu diwaspadai karena dampaknya terhadap saluran pernapasan dan mata. Partikel abu yang menempel pada kulit juga dapat memicu sejumlah gangguan, terutama pada orang dengan kondisi kulit sensitif.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE menjelaskan, abu vulkanik yang menempel pada kulit dapat menyebabkan kulit menjadi kering, perih atau terasa terbakar, gatal, hingga kemerahan atau dermatitis iritan.

“Pada kebanyakan orang, kontak singkat dengan abu tidak menyebabkan masalah kulit yang berat,” kata Arini dalam keterangannya dikutip, Senin (7/9/2026).

Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) itu mengatakan, orang dengan kulit sensitif, dermatitis atopik atau eksim, rosacea, maupun skin barrier yang sedang terganggu perlu lebih berhati-hati.

Kondisi skin barrier yang terganggu, misalnya setelah menjalani tindakan laser atau peeling, membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi.

“Partikel abu juga dapat bersifat abrasif. Karena itu, yang perlu dihindari adalah menggosok atau mengusap abu yang masih kering di permukaan kulit karena gesekan tersebut justru dapat meningkatkan iritasi,” ujar dokter lulusan Universitas Harvard itu.

Cara Membersihkan Kulit dari Abu Vulkanik

Arini mengatakan, membersihkan kulit perlu dilakukan sesegera mungkin setelah terpapar abu. Namun, abu yang masih dalam kondisi kering sebaiknya tidak langsung digosok karena dapat meningkatkan gesekan pada kulit.

Beberapa langkah yang disarankan untuk membersihkan kulit dari abu vulkanik, yakni:

Jika wajah mengalami iritasi, Arini menyarankan untuk sementara mengurangi penggunaan bahan aktif yang berpotensi membuat kulit semakin sensitif, seperti retinoid, AHA/BHA, peeling, maupun scrub, sampai kondisi kulit kembali tenang.

Pelembap untuk Menjaga Skin Barrier

Dalam upaya pencegahan, Arini menyebut proteksi fisik lebih penting daripada penggunaan obat. Masyarakat dapat menggunakan pelembap sederhana tanpa pewangi yang mendukung skin barrier.

Pelembap tersebut, misalnya, mengandung ceramide, glycerin, atau bahan humektan dan emolien lainnya.

“Pelembap sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang bersih dan diberi waktu agar menyerap. Tidak perlu menggunakan antibiotik atau kortikosteroid sebagai pencegahan. Jika kemudian timbul dermatitis yang cukup berat, obat antiinflamasi topikal mungkin diperlukan, tetapi sebaiknya berdasarkan pemeriksaan dokter,” katanya.

Abu Vulkanik Berbeda dengan Debu Biasa

Arini juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Meski demikian, masyarakat diimbau tidak panik.

Dari sisi kesehatan kulit, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu sehari-hari. Abu vulkanik terdiri atas partikel batuan dan mineral yang sangat halus. Sebagian partikel tersebut memiliki permukaan yang abrasif, sementara abu yang masih segar juga dapat membawa komponen yang bersifat asam.

“Karena itu prinsip terpenting adalah mengurangi kontak langsung dengan abu, terutama ketika konsentrasi abu di udara sedang tinggi. Dampak terhadap saluran napas dan mata umumnya menjadi perhatian utama, tetapi kulit juga dapat mengalami iritasi,” tambahnya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.