91% Dokter di Asia Tenggara Berpartisipasi dalam Sesi Belajar Digital
"Solusi digital tetap menjadi metode menarik bagi dokter untuk mengatasi kendala sistem kesehatan yang lama di Asia Tenggara, termasuk hambatan akses dan sarana," ujar Indranil Roychowdhury, CEO dan Salah Satu Pendiri Docquity. "Survei kami pada 2023 mengungkap, alih-alih mempertimbangkan gaya belajar dan interaksi dokter, lewat media digital atau tatap muka, industri kesehatan harus menyambut baik kombinasi dari kedua format tersebut, serta memanfaatkan teknologi digital guna menjangkau dua kelompok dokter tersebut secara efektif."
Permudah Industri Kesehatan
Ketika rasio dokter-pasien di Asia masih berada di bawah rata-rata rasio OECD, 75,2% dokter di Asia Tenggara memperkirakan, layanan konsultasi jarak jauh akan terus meningkat pada tahun depan.
Docquity menilai, pertumbuhan layanan kesehatan digital sejalan dengan pola belajar dokter. Misalnya, saat berhadapan dengan pilihan metode belajar kombinasi (hybrid learning), mayoritas dokter di Asia Tenggara (65,9%) memilih berpartisipasi secara digital. Di tengah kesibukan kerjanya, lebih dari setengah dokter (52,9%) cenderung memilih metode belajar digital berkat konten on-demand yang memberikan kemudahan.
Jaringan antar sejawat digital (digital peer-to-peer network) turut berperan mengatasi stres kerja yang dialami tenaga kesehatan. Docquity mengungkap, dokter di Asia Tenggara saling berinteraksi setiap hari atau lebih sering, dan 48,4% interaksi ini berlangsung secara virtual. Kondisi pasien menjadi topik utama (60,4%) dalam interaksi ini, sedangkan, dukungan sosial (20,4%) juga menempati daftar topik yang paling sering dibahas dokter.
Paduan Digital dan Tatap Muka
Menurut riset Docquity, preferensi belajar menunjukkan saluran interaksi yang dipilih dokter. Seperti yang tecermin dari angka partisipasi kedua kelompok dokter pada aplikasi Docquity bahwa preferensi ini tidak bersifat eksklusif, metode interaksi dokter dengan pelaku industri kesehatan juga menunjukkan tren penting. Meski kelompok dokter yang lebih memilih sesi tatap muka memiliki kecenderungan sebesar 80,6% terhadap metode interaksi tatap muka dengan staf perusahaan di industri kesehatan, kelompok dokter yang lebih memilih sesi digital bersikap fleksibel antara metode interaksi daring (56,9%) dan luring (43,1%).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!