6 Juta Orang Teken Petisi Diskualifikasi Argentina dari Piala Dunia

Desi Rossilawati
Rabu, 15 Juli 2026 | 15:36 WIB
Bagikan
6 Juta Orang Teken Petisi Diskualifikasi Argentina dari Piala Dunia

Timnas Argentina./visi.news/BBC.

VISI.NEWS - Lebih dari enam juta orang menandatangani petisi online yang menyerukan agar Argentina didiskualifikasi dari Piala Dunia 2026. Petisi tersebut muncul di tengah tudingan wasit dan FIFA memberikan perlakuan istimewa kepada juara bertahan serta kapten tim, Lionel Messi.

Petisi yang diunggah melalui situs argentinaout.com itu menjadi viral setelah menyerukan FIFA mengeluarkan Argentina dari turnamen yang berlangsung di Amerika Utara. Penggagas petisi menilai keberpihakan terhadap Argentina membuat persaingan di Piala Dunia tidak berlangsung secara adil.

"Sudah jelas FIFA dan para wasit berpihak kepada Lionel Messi dan Argentina. Mengapa negara lain harus bersaing jika pemenangnya sudah ditentukan? Keluarkan Argentina dari Piala Dunia dan berikan kesempatan yang adil bagi tim lainnya," demikian isi petisi tersebut dikutip dari South China Morning Post, Rabu (15/7/2026).

Gelombang protes mencuat setelah Argentina melakukan kebangkitan dramatis saat menghadapi Mesir pada babak 16 besar. Sempat tertinggal 0-2 dan gagal mengeksekusi penalti melalui Lionel Messi pada babak pertama, Argentina berhasil mencetak tiga gol dalam 13 menit terakhir untuk mengamankan tiket ke perempat final.

Mesir menilai kemenangan tersebut diwarnai sejumlah keputusan kontroversial. Salah satunya adalah gol mereka yang dianulir setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) karena dinilai terjadi pelanggaran dalam proses serangan.

Tim berjuluk The Pharaohs itu juga menilai gol penentu kemenangan Argentina seharusnya turut ditinjau melalui VAR karena diduga diawali pelanggaran terhadap Mohamed Salah. Menurut mereka, gol tersebut semestinya dianulir dan Mesir layak memperoleh hadiah penalti.

Pelatih Mesir Hossam Hassan bahkan menuding hasil pertandingan telah diatur demi memastikan Argentina melaju ke babak berikutnya.

"Saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan, apa pun risikonya. Ini jelas telah diatur dan semua orang melihatnya. Jika mereka memang sangat ingin Argentina menang, mengapa masih mengundang negara lain untuk ikut Piala Dunia?" kata Hassan.

Ia juga mempertanyakan komitmen FIFA terhadap slogan Fair Play.

"FIFA mempromosikan 'Fair Play', tetapi kami tidak melihatnya di lapangan. Tanpa kesalahan-kesalahan itu, hasil pertandingan pasti akan berbeda," ujarnya.

Menanggapi tudingan tersebut, pelatih Argentina Lionel Scaloni membantah keras adanya perlakuan khusus terhadap timnya. Menurutnya, tuduhan serupa sudah kerap muncul sejak Argentina menjuarai Piala Dunia 1986.

"Pada 1986 mereka juga mengatakan Argentina mendapat keuntungan yang tidak adil. Ini bukan hal baru bagi kami," ujar Scaloni dalam konferensi pers menjelang laga perempat final.

Scaloni menilai perkembangan teknologi VAR membuat peluang terjadinya keberpihakan terhadap tim tertentu menjadi sangat kecil.

"Dengan VAR dan seluruh teknologi yang kami miliki sekarang, sangat sulit membantu siapa pun. Tidak ada ruang untuk interpretasi yang berbeda," katanya.

Ia menjelaskan, jika seorang pemain melakukan pelanggaran yang berujung terciptanya gol, maka gol tersebut akan dianulir sesuai ketentuan yang berlaku.

"Media sosial memperbesar semua hal sehingga kontroversi cepat menyebar. Namun tidak ada keberpihakan. Justru sekarang sangat sulit membantu tim tertentu. Mungkin dulu hal seperti itu bisa terjadi, saya tidak tahu, tetapi saat ini hampir mustahil," ujar Scaloni.

Argentina kini menjadi satu dari tiga tim yang tersisa di Piala Dunia 2026 dan dijadwalkan menghadapi Inggris pada babak semifinal. Sementara semifinal lainnya telah mempertemukan Prancis dan Spanyol, dengan Spanyol memastikan tempat di partai final.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.