5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing
China Unicom Beijing dan Huawei Dukung World Humanoid Robot Games ke-2 dengan 5G-A GigaUplink. /VISI.NEWS/IST
VISI.NEWS — Teknologi jaringan seluler generasi terbaru mulai menunjukkan peran yang lebih besar dalam perkembangan robot humanoid dan kecerdasan buatan berbasis fisik atau embodied AI. Dalam ajang 2nd World Humanoid Robot Games di Beijing, China Unicom Beijing dan Huawei menghadirkan jaringan 5G-A GigaUplink yang dirancang untuk menopang komunikasi robot secara real time, pengendalian presisi, hingga pengalaman digital bagi ribuan penonton.
Ajang tersebut resmi dibuka di National Speed Skating Oval atau yang dikenal sebagai "Ice Ribbon", Beijing, pada 23 Agustus 2026.
Penyelenggara menghadirkan kompetisi dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan penyelenggaraan perdana. Sebanyak 2.056 robot humanoid dari 666 tim mengikuti 1.301 pertandingan yang terbagi dalam 51 nomor perlombaan.
Jumlah nomor pertandingan tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan penyelenggaraan pertama yang hanya memiliki 26 nomor.
Perluasan kompetisi juga membuat kebutuhan terhadap jaringan komunikasi semakin kompleks. Robot tidak lagi hanya diuji dalam demonstrasi kemampuan dasar, tetapi harus berhadapan dengan situasi yang membutuhkan kecepatan pengambilan keputusan, koordinasi antarmesin, navigasi, serta kemampuan melakukan gerakan presisi.
Beberapa nomor baru bahkan mempertemukan robot secara langsung dalam pertandingan seperti tenis meja dan kickboxing.
Kompetisi berbasis skenario juga diperluas ke lingkungan yang menyerupai kehidupan nyata. Robot diuji dalam konteks industri, hotel, rumah, dan logistik.
Artinya, arena pertandingan tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk memperlihatkan kemampuan robot berjalan atau bergerak.
Robot dituntut menunjukkan bagaimana teknologi tersebut dapat bekerja dalam lingkungan yang lebih kompleks dan mendekati kebutuhan manusia sehari-hari.
Dalam kondisi seperti itu, jaringan komunikasi menjadi bagian penting dari sistem.
Robot humanoid membutuhkan pertukaran data secara cepat untuk mengirim telemetri, menerima sinyal kendali, berkoordinasi dengan robot lain, serta merespons perubahan lingkungan.
Keterlambatan komunikasi yang kecil sekalipun dapat memengaruhi kemampuan robot melakukan gerakan presisi.
Karena itu, China Unicom Beijing dan Huawei menyiapkan jaringan khusus 5G-A untuk mendukung kebutuhan kompetisi.
Salah satu teknologi utama yang digunakan adalah 5G-A GigaUplink, yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas uplink atau kemampuan mengirim data dari perangkat menuju jaringan.
Kemampuan uplink menjadi semakin penting dalam era robotika dan embodied AI karena perangkat tidak hanya menerima data dari jaringan, tetapi juga terus-menerus mengirimkan informasi ke sistem komputasi.
Sensor robot dapat menghasilkan data mengenai posisi, gerakan, lingkungan sekitar, hingga kondisi operasional. Data tersebut perlu dikirim dengan cepat agar sistem dapat mengambil keputusan dan memberikan respons.
Untuk ajang tersebut, China Unicom Beijing dan Huawei membangun jaringan khusus dengan lebar pita 100 MHz.
Jaringan tersebut dilengkapi jaringan indoor ultra-wideband 300 MHz berbasis LampSite untuk mendukung komunikasi di dalam area pertandingan.
Kombinasi tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pertukaran telemetri robot dan sinyal kendali secara real time.
China Unicom dan Huawei juga menerapkan dedicated 5QI 7 slice serta carrier isolation.
Teknologi tersebut digunakan untuk memberikan prioritas dan perlindungan terhadap lalu lintas data yang berkaitan dengan operasi robot.
Dengan konfigurasi tersebut, latensi end-to-end untuk komunikasi robot humanoid dijaga di bawah 30 milidetik.
Angka tersebut penting karena kompetisi robot membutuhkan respons yang sangat cepat.
Ketika robot harus menghindari rintangan, mengubah arah, menggerakkan anggota tubuh, atau berkoordinasi dengan robot lain, keterlambatan komunikasi dapat memengaruhi akurasi respons.
Jaringan dengan latensi rendah memungkinkan pertukaran informasi berlangsung lebih cepat sehingga robot dapat menjalankan perintah dan melakukan penyesuaian dalam waktu singkat.
Dalam pengujian di lokasi pertandingan, kecepatan uplink tertinggi yang tercatat mencapai 1 Gbps. Sementara itu, rata-rata latensi berada di bawah 30 milidetik.
Teknologi jaringan tersebut kemudian dipadukan dengan sistem penentuan posisi BeiDou RTK atau Real-Time Kinematic.
Integrasi ini memungkinkan tingkat akurasi posisi pada skala desimeter hingga subdesimeter.
Bagi robot yang harus bergerak secara mandiri, kemampuan mengetahui posisi dengan tingkat akurasi tinggi menjadi sangat penting.
Robot dapat menggunakan informasi posisi tersebut untuk melakukan navigasi otomatis, menghindari rintangan, serta menjalankan perlombaan yang membutuhkan ketepatan tinggi.
Kombinasi konektivitas dan positioning menjadi semakin relevan ketika robot harus bergerak di lingkungan yang kompleks.
Robot tidak hanya membutuhkan "mata" melalui sensor, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengetahui lokasi dirinya secara akurat dan bertukar informasi dengan sistem pengendali.
Dari sinilah jaringan 5G-A mulai memainkan peran yang lebih besar daripada sekadar menyediakan koneksi internet cepat.
Dalam kompetisi humanoid robot, jaringan menjadi bagian dari infrastruktur yang memungkinkan robot berkomunikasi dengan sistem komputasi dan lingkungan sekitarnya.
Namun, kebutuhan jaringan di ajang tersebut tidak hanya datang dari robot.
Ribuan penonton yang berada di lokasi juga menciptakan lonjakan trafik data.
China Unicom Beijing harus menghadapi situasi ketika ribuan perangkat secara bersamaan menggunakan jaringan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pesan instan, pemeriksaan tiket, pemindaian kode QR, pembayaran digital, hingga mengunggah foto dan video.
Kebutuhan tersebut semakin tinggi karena penonton juga ingin membagikan momen pertandingan secara langsung melalui media sosial dan layanan video.
Untuk mengantisipasi kepadatan trafik, sumber daya jaringan dan kebijakan jaminan layanan disesuaikan secara dinamis berdasarkan fase dan lokasi kegiatan.
Pengaturan dilakukan mulai dari saat penonton memasuki area, mengantre, menyaksikan pertandingan, hingga meninggalkan venue.
Layanan yang dianggap penting, seperti akses tiket, QR code, komunikasi, dan pembayaran seluler, diprioritaskan agar tetap dapat digunakan secara stabil.
Pada saat yang sama, jaringan tetap harus mampu mengakomodasi aktivitas yang membutuhkan bandwidth besar seperti unggahan foto, video pendek, dan siaran langsung.
Dengan demikian, infrastruktur yang dibangun tidak hanya ditujukan untuk membuat robot dapat bertanding.
Jaringan juga menjadi bagian dari pengalaman penonton.
Ketika pertandingan berlangsung, penonton dapat tetap terhubung, membagikan momen pertandingan, berkomunikasi dengan orang lain, serta mengakses berbagai layanan digital tanpa terlalu terganggu oleh kepadatan pengguna.
Selain konektivitas, China Unicom juga mengembangkan sistem manajemen robot untuk kebutuhan operasional ajang tersebut.
Perusahaan menyebut sistem itu sebagai platform manajemen robot embodied AI pertama di China yang dirancang untuk skenario penyelenggaraan acara.
Melalui sistem tersebut, setiap robot diberikan identitas jaringan khusus.
Identitas tersebut memungkinkan petugas memantau keberadaan robot di dalam venue, status pertandingan, serta berbagai parameter operasional secara real time.
Dengan sistem tersebut, pengelolaan robot tidak lagi dilakukan secara terpisah-pisah.
Data dari berbagai robot dapat dipantau dalam satu sistem sehingga menciptakan mekanisme operasi dan manajemen yang lebih terintegrasi.
Pendekatan ini penting karena jumlah robot yang terlibat mencapai ribuan.
Semakin banyak robot yang bergerak secara bersamaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem yang dapat mengetahui lokasi, status, dan kondisi masing-masing perangkat.
Infrastruktur tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana teknologi yang digunakan dalam kompetisi robot dapat dikembangkan untuk kebutuhan di luar arena.
Robot humanoid diperkirakan akan semakin banyak digunakan dalam berbagai lingkungan, mulai dari pabrik, gudang, hotel, rumah, hingga layanan publik.
Semua lingkungan tersebut memiliki satu kebutuhan yang sama: konektivitas yang stabil dan mampu menangani pertukaran data dalam jumlah besar.
Karena itu, pengalaman China Unicom Beijing dan Huawei dalam World Humanoid Robot Games dipandang sebagai salah satu bentuk pengujian nyata teknologi jaringan untuk era embodied AI.
Yang diuji bukan hanya kecepatan jaringan, tetapi juga latensi, keandalan, kapasitas uplink, cakupan, dan kemampuan mengelola perangkat dalam jumlah besar.
Deputy General Manager China Unicom Beijing Yang Lifan mengatakan jaringan yang dibangun dalam ajang tersebut bukan hanya menjadi pengujian kemampuan jaringan China Unicom.
Pengalaman tersebut, menurut dia, juga menjadi sumber pembelajaran untuk menghadapi kemungkinan penerapan embodied AI dalam skala lebih besar.
China Unicom akan menggunakan pengalaman dari inisiatif 5G Capital untuk mengembangkan kemampuan jaringan yang dapat direplikasi dalam berbagai skenario Mobile AI.
Tujuannya adalah mengubah inovasi teknologi menjadi kemampuan jaringan yang dapat digunakan secara lebih luas untuk mendukung industri.
Sementara itu, President Huawei's Wireless TDD Product Line David Li menilai World Humanoid Robot Games memberikan validasi langsung terhadap kemampuan jaringan 5G-A 100 MHz GigaUplink yang menggunakan konfigurasi 3.5 GHz 2CC + 2.1 GHz SUL untuk kebutuhan embodied AI.
Menurut Huawei, pengembangan berikutnya akan diarahkan pada penguatan kemampuan uplink dan koordinasi spektrum.
Hal tersebut diperlukan untuk mendukung transmisi data multimodal antara perangkat dan sistem komputasi secara lebih efektif.
Dalam konteks robot humanoid, data multimodal dapat berasal dari berbagai sensor dan perangkat yang digunakan untuk memahami lingkungan.
Semakin kompleks kemampuan robot, semakin besar pula kebutuhan terhadap komunikasi antara perangkat dengan sistem komputasi.
Huawei menekankan bahwa jaringan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan tinggi.
Latensi rendah, keandalan tinggi, dan cakupan yang luas juga menjadi faktor penting.
Ketiga unsur tersebut akan menentukan apakah robot dan perangkat berbasis AI dapat berinteraksi dengan lingkungan secara cepat dan presisi.
World Humanoid Robot Games akhirnya menjadi lebih dari sekadar kompetisi teknologi.
Arena pertandingan tersebut menjadi ruang pengujian bagi hubungan antara robot, kecerdasan buatan, konektivitas, dan sistem digital.
Robot yang mampu berjalan, bertanding, menari, menghindari rintangan, dan menjalankan berbagai tugas membutuhkan infrastruktur komunikasi yang dapat mengimbangi kemampuan tersebut.
Di sinilah 5G-A GigaUplink memainkan peran penting.
Jika jaringan generasi sebelumnya banyak dibangun dengan fokus pada kebutuhan manusia untuk mengakses internet, perkembangan embodied AI menuntut jaringan untuk beradaptasi dengan kebutuhan mesin.
Robot membutuhkan koneksi yang tidak hanya cepat, tetapi juga konsisten, responsif, dan dapat diandalkan.
Dalam jangka panjang, kebutuhan tersebut berpotensi mengubah cara jaringan telekomunikasi dirancang.
Ketika robot mulai masuk ke pabrik, pusat logistik, rumah, hotel, dan ruang publik, konektivitas akan menjadi bagian dari infrastruktur operasionalnya.
Pengalaman yang diperoleh di Beijing menjadi salah satu gambaran awal mengenai kebutuhan tersebut.
Melalui World Humanoid Robot Games, China Unicom Beijing dan Huawei menunjukkan bagaimana jaringan 5G-A dapat digunakan untuk mendukung ekosistem robotika dalam kondisi nyata.
Dari kecepatan uplink hingga 1 Gbps, latensi di bawah 30 milidetik, akurasi positioning hingga skala subdesimeter, serta sistem manajemen robot berbasis identitas jaringan, berbagai teknologi tersebut dirancang untuk satu tujuan: memastikan robot dapat bergerak dan berkomunikasi secara presisi.
Bagi penonton, manfaatnya mungkin terlihat sederhana—pertandingan dapat berlangsung lancar dan koneksi tetap tersedia ketika mereka mengunggah video atau melakukan pembayaran.
Namun, di balik pengalaman tersebut terdapat eksperimen teknologi yang jauh lebih besar.
Robot humanoid sedang bergerak dari laboratorium menuju lingkungan nyata.
Dan ketika robot mulai hadir dalam kehidupan sehari-hari, jaringan yang menghubungkan mereka akan menjadi sama pentingnya dengan robot itu sendiri.
Melalui inisiatif 5G Capital, China Unicom dan Huawei kini mencoba membangun fondasi tersebut—bukan hanya untuk membuat robot dapat bertanding di arena Beijing, tetapi juga untuk mempersiapkan era ketika kecerdasan buatan yang memiliki tubuh benar-benar menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!