Wara: Sikap Hati-Hati dalam Islam untuk Jaga Diri dari Perkara Syubhat

Desi Rossilawati
Minggu, 22 Juni 2025 | 23:00 WIB
Bagikan
Wara: Sikap Hati-Hati dalam Islam untuk Jaga Diri dari Perkara Syubhat
VISI.NEWS | BANDUNG - Umat Islam dituntut untuk mampu memilah antara yang benar dan salah, bukan hanya secara lahiriah tapi juga batiniah. Salah satu prinsip penting dalam ajaran Islam untuk menjaga diri dari hal-hal yang merugikan adalah sikap wara. Wara merupakan konsep kehati-hatian dalam bertindak, yang mendorong seorang Muslim menjauhi segala bentuk keraguan, baik yang haram maupun yang belum jelas statusnya (syubhat). Dalam kitab 'Pelajaran tentang Wara' karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid, disebutkan bahwa secara bahasa, wara berarti menjaga dan menahan diri dari sesuatu yang tak pantas. Secara istilah, wara adalah meninggalkan apa yang meragukan dan memilih yang benar-benar jelas serta bersih di mata agama. Prinsip ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh cucunya, Al-Hasan bin Ali:

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، وَقاَلَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kesayangannya radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.'" (HR. Tirmidzi, An-Nasa'i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Sikap wara juga tercermin dalam perilaku keseharian. Menurut buku 'Ilmu Tasawuf', orang yang memiliki sifat wara akan menjaga lisannya dari ghibah, menjauhi prasangka buruk, menjaga pandangan dari hal terlarang, serta membelanjakan harta hanya pada hal bermanfaat. Ia juga tidak tamak pada jabatan, konsisten salat tepat waktu, dan berusaha menjalani hidup sesuai ajaran Rasulullah SAW. Empat Tingkatan Wara Menurut Imam Al-Ghazali:

1. Wara al-Udul

Tingkatan dasar yang wajib bagi setiap Muslim: menjauhi larangan Allah SWT secara langsung.

2. Wara as-Salihin

Menjauh dari hal syubhat, yakni perkara yang belum jelas halal atau haramnya.

3. Wara al-Muttaqin

Menghindari sesuatu yang halal karena dikhawatirkan dapat menjadi pintu menuju yang haram.

4. Wara as-Siddiqin

Level tertinggi: menjauhi perkara halal jika hal itu dapat membuat hati lalai dari mengingat Allah. Ini adalah wara-nya para arifin, orang-orang yang telah menapaki spiritualitas secara mendalam. Melalui sikap wara, seorang Muslim tak hanya menjaga dirinya dari hal-hal yang tampak jelas salah, tetapi juga melatih kepekaan hati untuk memilih jalan yang paling bersih dan diridhai oleh Allah SWT. Wallahu a‘lam. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.