Wapres RI Buka Acara Multaqa, FGD, dan Rakornas LSBPI-MUI 2022
Menurutnya, ini bukan hanya penghargaan dari Rasulullah untuk Hasan bin Tsabit, namun juga doa dari Nabi untuk semua penyair, sastrawan, seniman, dan budayawan muslim yang menulis dan menciptakan karyanya untuk membela Allah dan Rasul-Nya serta membela kebajikan dan kebenaran.
Lebih lanjut, Kiai Ma’ruf memaparkan bahwa pada kenyataannya, tidak sedikit para dai dan mubalig muslim yang merupakan seniman ulung atau paling tidak menggunakan seni sebagai perantara dakwah.
Begitupun sebaliknya, imbuh Kiai, banyak seniman yang sejatinya adalah dai atau memiliki fitrah sebagai penyeru kebajikan.
Misalnya Buya Hamka, Ketua Umum MUI pertama merupakan seorang ulama yang juga pujangga. Atau Asep Sunandar Sunarya dalang wayang golek yang terkenal di tanah Pasundan, sering menyelipkan dakwah dalam lakon yang dipentaskannya.
“Banyak juga kita temukan karya-karya sastrawan dan budayawan, seperti puisi, cerpen ataupun novel yang sarat akan nilai dakwah,” ujarnya.
Kiai Ma’ruf juga menyampaikan bahwa Multaqa ini bukan hanya hajat LSBPI-MUI, tapi pada sejatinya merupakan hajat besar bagi para seniman dan budayawan Islam di Indonesia.
“Di dalam Multaqa ini, saya berharap, tercipta sinergi antar seniman dan budayawan muslim untuk membentengi bangsa ini dari budaya-budaya destruktif, sekaligus tercipta kekuatan kreatif yang melahirkan banyak gagasan dan karya bagi bangsa ini,” ujarnya.
Sekjen Majelis Hukama Muslim yang diketuai langsung oleh Grand Syekh al-Azhar, lanjutnya, pernah menyatakan bahwa sudah saatnya dunia Arab belajar toleransi dari kehidupan yang hamonis kepada umat Islam di Indonesia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!