VISI | Sudah Baca Apa Hari ini ?
Bayangkan jika setiap sekolah, kantor pemerintah, dan ruang publik diwajibkan memulai hari dengan membaca minimal 15 menit. Bayangkan jika masyarakat punya kebiasaan membawa buku seperti halnya membawa ponsel. Bayangkan jika orang tua membaca sebelum tidur bersama anak-anak mereka, bukan sekadar menggulir layar gawai tanpa jeda.
Dalam waktu lima hingga sepuluh tahun, bangsa ini tidak hanya akan terlihat lebih cerdas, tetapi juga lebih kritis, lebih beradab, lebih mampu berdialog, dan tidak mudah diprovokasi.
Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 3–5 jam, bahkan bisa lebih per hari di media sosial. Namun, untuk membaca satu halaman buku saja, banyak yang ragu-ragu atau bahkan enggan.
Ini menunjukkan satu hal: bangsa ini tidak kekurangan waktu—bangsa ini kehilangan fokus. Ketika membaca tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan, maka kualitas berpikir perlahan memudar. Masyarakat yang tidak membaca akan mudah percaya hoaks, mudah dipecah belah, dan sulit membedakan pendapat dengan fakta.
Pada titik tertentu, rendahnya literasi bukan hanya masalah pendidikan—tetapi ancaman bagi kualitas demokrasi dan masa depan bangsa.
Sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang pasif. Bangsa yang membaca dan menulis akan memimpin. Bangsa yang hanya menonton dan mengikuti akan tertinggal. Kita ingin Indonesia maju, tetapi pertanyaan paling mendasar masih tertinggal: adakah komitmen kolektif untuk menjadikan literasi sebagai fondasi bangsa?
Selama membaca hanya menjadi slogan, bukan kebiasaan—maka cita-cita besar tentang Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi jargon tanpa substansi. Perubahan tidak perlu menunggu undang-undang. Tidak perlu menunggu anggaran, seminar, atau peringatan hari besar. Perubahan bisa dimulai hari ini, dari diri kita sendiri, dari satu langkah kecil yang konsisten: Bertanya dan membiasakan: “Sudah membaca apa hari ini?”
Bukan untuk menuntut, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan diri bahwa masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa sering kita berbicara—tetapi seberapa banyak kita belajar, memahami, dan membaca.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!