VISI | Sudah Baca Apa Hari ini ?
Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Idonesia
- Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu pertanyaan sederhana yang sebetulnya mampu mengguncang kesadaran kita: “Sudah membaca apa hari ini?”
Pertanyaan itu terdengar sepele, tetapi sesungguhnya adalah indikator peradaban. Pertanyaan yang seharusnya menjadi bagian dari keseharian masyarakat berpendidikan, namun justru terasa asing di telinga kita—bangsa yang katanya ingin maju.
Ironisnya, budaya membaca di negeri ini justru menguat bukan karena kesadaran mendasar, tetapi karena rasa takut tertinggal saat hasil survei internasional seperti PISA dirilis. Ketika nilai literasi berada di urutan bawah dunia, barulah kita gaduh. Barulah seminar digelar, spanduk dipasang, slogan digaungkan: “Ayo Membaca!”
Namun, sesudah masa kejut itu berlalu, semuanya kembali seperti semula—sunyi, hambar, dan tanpa arah. Seolah-olah literasi hanya urusan lomba, proyek, dan anggaran yang habis masa berlakunya.
Inilah akar masalah kita: literasi di Indonesia masih dianggap sebagai kegiatan musiman. Ada program, ada laporan, ada foto kegiatan—selesai. Padahal, literasi bukan sekadar aktivitas administratif atau agenda sekolah. Literasi adalah kebiasaan bernalar, bukan seremonial.
Negara-negara maju tidak pernah mewajibkan membaca hanya karena ranking internasional mereka turun. Mereka membaca karena sadar: pengetahuan adalah modal masa depan. Kita masih menjadikan membaca sebagai pilihan, bukan kebutuhan.
Sudah banyak wacana bergulir, namun implementasi masih jauh panggang dari api. Indonesia membutuhkan langkah konkret: regulasi nasional yang menempatkan membaca sebagai kewajiban harian, bukan sekadar himbauan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!