VISI | Sikap Kritis yang Kian Terkikis
Oleh Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.
- Penulis lepas lintas Jogja - Sumatera.
JIKA dalam tradisi keilmuan di lingkungan kampus Islam (agama) atau di kampus umum pada fakultas-fakultas tertentu saja semisal Filsafat, dan Humaniora, sisanya adalah eksakta, yang berarti paradigma pikir an sich diberlakukan. Sengaja menyebut nama lembaga atau departemen, istilah kritis dalam kondisi terkikis adalah gambaran adanya perubahan atau sekedar pergeseran sikap yang sejauh ini sebagai sedikit dari lingkungan yang memfasilitasi sikap kritis.
Namun diakui keinginan atau dapat disebut kerinduan besar akan kemampuan berpikir manusia berbentuk sikap kritis pada sisi lain dirasa semakin genting. Dinamika kehidupan yang identik dengan ketidakpastian menjadikannya kian dicari kehadirannya.
Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan sebab sikap kritis dalam kondisi yang kian terkikis, di antaranya adalah pengecohan ("at-taghrir") orang-orang yang mencari penghidupan di seantero negeri. Satu dan lain hal berusaha melakukan pengecohan tersebut dengan berbagai strategi, baik dengan menanamkan kebaikan yang tentunya akan mendapat hasilnya kelak, atau mentakkidkan suatu sikap agar terpatri dan terkesan dalam benak seseorang, namun sayangnya sikap ini saat ini cenderung negatif.
Sebagai contoh, seorang Habib yang bisa leluasa dengan gelar Habib namun bersikap jauh dari kemuliaan akhlak seorang Nabi. Bahkan barang suatu waktu, mungkin tidak pada tataran niat, namun sikapnya justru cenderung mengolok-olok pendahulu tidak hanya pada garis keturunan (nasab) namun juga umat Islam sedunia.
Kondisi ini bukan suatu dikotomik, atau kerumitan setingkat penguraian anomali dan kritisisme, namun penerimaan tanpa ada usaha penggalian ilmu. Walhasil, segala yang tampak menjadi tidak terbantahkan, termasuk ruang kritik dan setiap yang ada menjadi suatu kebenaran untuk diterima. Padahal sikap menangguhkan menjadi bijak dalam rangka penyempurnaan misalnya, atau sekedar perbaikan, dan dalam ruang dialog metode yang dapat ditempuh adalah kritis.
Kritis bukan berarti anti dalam mengkultuskan atau sepenuhnya bersandar pada akal budi sebagaimana didapati dalam pemahaman tentang kritis di Barat atau Filsafat Barat sebagaimana dikenal dengan istilah Kritisisme Immanuel Kantor misalnya. Namun sikap kritis di sini kembali pada deskripsi tentang peringatan akan adanya usaha pengecohan dalam berkehidupan.
Hal ini diingatkan Allah dalam al-Qur'an Surat Aali Imraan ayat 196 untuk tidak terkecoh oleh orang-orang kafir yang leluasa bergerak sepenjuru negeri, berikut terjemahnya: "jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri." Dikatakan memperdaya karena sesungguhnya itu bukan suatu kebenaran, makanya dalam ayat tersebut yang disentil sebagaimana biasa untuk contoh buruk adalah orang kafir. Sebab hal tersebut semata kesenangan duniawi yang sifatnya sementara.
Kembali kepada perkara urgensi bersikap kritis, maka pada poin ini penekanannya adalah kepada mereka yang, jika takut menyinggung dengan istilah kafir, maka adalah mereka para pengecoh tersebut yang berusaha melakukan berbagai cara bahkan tercela sekalipun dalam rangka mereguk kenikmatan sementara namun bagi sebagian senantiasa dilanjutkan atau diteruskan. Jadi sikap kritis dimaksud adalah pencerahan, bukan tanpa maksud atau dengan tujuan tidak jelas, Allahu a'lam!. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!