VISI | Seratus Hari
Pendidikan tidak butuh itu. Pendidikan membutuhkan kehadiran pemimpin yang membumi, yang tahu kondisi di pelosok, yang menghargai jerih payah guru honorer, yang memahami tantangan guru di sekolah inklusif, yang mendengar keluh kesah kepala sekolah tanpa harus menunggu viral di media. Inilah mengapa seratus hari pertama penting: karena kita tidak bisa menunggu lima tahun untuk melihat perubahan. Jika di awal masa jabatan saja kepala daerah gagal menempatkan orang-orang yang mumpuni, maka sangat mungkin lima tahun berikutnya hanya akan jadi waktu yang terbuang.
Kita membutuhkan pemimpin daerah yang berani melawan arus pragmatisme politik. Pemimpin yang paham bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak langsung menghasilkan suara, tetapi membentuk peradaban. Dan itu hanya bisa dilakukan jika orang-orang yang mengurusi pendidikan berasal dari rahim pendidikan itu sendiri. Sebagai guru yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade, penulis tidak berharap terlalu muluk dari kepala daerah. Kami hanya berharap satu hal: jangan rusak dunia pendidikan dengan kepentingan politik jangka pendek. Biarkan pendidikan berjalan di jalur profesional, dengan komando orang-orang yang punya keilmuan dan integritas.
Seratus hari bisa menjadi awal dari masa depan yang cerah—atau awal dari kehancuran yang terstruktur. Pilihannya ada di tangan pemimpin kita hari ini.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!