Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

VISI | Sekolah Hijau

ED
Jumat, 3 Oktober 2025 | 06:09 WIB
Bagikan
VISI | Sekolah Hijau

“Sekolah Hijau” sesungguhnya bukan sekadar jargon. Di banyak negara maju, sekolah hijau adalah konsep pendidikan yang berkelanjutan (sustainable education). Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga laboratorium kehidupan. Melalui keberadaan pohon, taman, kebun, hingga area resapan air, siswa belajar langsung tentang siklus alam, pentingnya menjaga ekosistem, dan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan lingkungan.

Ketika pohon-pohon ditebang, filosofi itu ikut terkikis. Sekolah tidak lagi menjadi ruang belajar kehidupan, melainkan hanya sebatas gedung beton yang steril dari alam. Padahal UNESCO sejak lama mendorong Education for Sustainable Development (ESD), yang salah satu indikatornya adalah bagaimana sekolah mampu menciptakan ruang hijau yang mendukung tumbuhnya kepedulian lingkungan pada siswa.

Ketika seseorang diberikan amanah sebagai pemimpin pendidikan, artinya yang bersangkutan mempunyai visi yang indah, bagaimana memberikan dampak yang positif tidak sebaliknya. Tidak jarang mereka begitu “gagah” pohon-pohon rindang yang telah berusia puluhan tahun ditebang dengan alasan “membahayakan” dan “menghalangi estetika bangunan baru.” Hanya dalam hitungan hari, suasana sekolah yang sebelumnya teduh berubah drastis menjadi panas menyengat.

Dampaknya langsung terasa. Suhu kelas meningkat sehingga siswa mudah lelah, guru pun mengeluh sulit berkonsentrasi saat mengajar. Burung-burung yang biasa hinggap di cabang pohon tak lagi terlihat. Beberapa orang tua bahkan menyampaikan protes karena anak-anak mereka sering mengeluhkan kepanasan. Namun, suara mereka nyaris tidak didengar karena pemimpin sekolah merasa sudah mengambil “keputusan terbaik.”

Ironisnya, pohon-pohon yang ditebang itu sebenarnya bisa diselamatkan dengan perawatan yang tepat. Jika memang ada cabang yang rawan patah, bisa dilakukan pemangkasan selektif. Jika ada yang keropos, bisa dilakukan penguatan batang. Tetapi, jalan pintas berupa “penebangan total” dianggap lebih cepat dan praktis — walau merusak esensi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.