VISI | Platonic Friendship

ED
Selasa, 14 Januari 2025 | 08:56 WIB
Bagikan
VISI | Platonic Friendship
Oleh Aep S Abdullah REUNI, bukan sekadar ajang untuk silaturahmi, tapi bisa lebih mengeksplorasi karakteristik dari teman-teman kita. Persepsi tentang teman pada saat sekolah, setelah tak bertemu puluhan tahun, tentu bisa berbeda saat kita dewasa dan punya kematangan secara emosional. Interaksi di acara reuni itu bisa menjadikan kita saling memahami teman-teman kita dulu, dan sekarang. Tapi interaksi itu juga bisa menjadi toxic, kalau pemahaman tentang teman, tidak mendalam tapi berani melakukan sebuah ikatan. Bisa CLBK, bisnis, partnership dan kerjasama lainnya. Yang akhirnya kawan menjadi lawan. Yang tadinya sahabat dekat menjadi menjauh. Tapi ini harus bisa dimaklumi karena alasan tadi. Komunikasi yang dibangun di reuni itu hanya di permukaan saja. Peter Drucker mengatakan, “Hal terpenting dalam komunikasi adalah mendengarkan apa yang tidak dikatakan". Ia menekankan pentingnya memahami pesan yang tersirat dalam komunikasi. Ini berarti kita harus memperhatikan bahasa tubuh, ekspresi wajah, nada suara, dan konteks situasi, bukan hanya kata-kata yang diucapkan. Kata-kata belum bisa mengaktualisasi teman kita yang sebenarnya. Pada suatu saat, seorang teman berusia sekira 62 tahun turun dari mobil Kijang Kapsul warna hitam yang dikemudikan oleh teman wanitanya. Ia masuk ke kantor didampingi wanita sebayanya itu. Garis-garis wajah wanita ini mencerminkan, semasa mudanya, ia wanita cantik. Kata bos saya yang juga masih saudaranya, temen saya, Si X ini dulunya kaya raya. Ia anak tunggal. Ayahnya Ketua Gabungan Koperasi yang menampung hampir 2.000 pengusaha tekstil dengan jumlah buruh hampir 7.000 orang. Sewaktu SMP, ia sudah biasa diantar jemput ke sekolah pakai mobil mewah saat itu, Impala. Rumah ayahnya tersebar di Jalan Cipaganti, Setiabudhi, Dago dan tempat-tempat lainnya di Kota Bandung. Namun hidupnya tidak karu-karuan. Ia pernah memasuki hampir semua club malam atau pub elit yang ada di Bandung maupun di Jakarta. Ia mengenali serta bisa cerita detail tentang tempat orang-orang berduit menghabiskan waktu malamnya itu. Setelah ayahnya meninggal, tidak ada lagi yang bisa mencetak uang sepiawai ayahnya. Satu persatu asetnya di jual. Hidupnya yang mewah menjadikan semuanya ludes. Sampai di titik terendah. Ia tidak punya isteri, dan tidak punya rumah. "Kang kenalkeun, Ketua FY (sebut saja demikian, sebuah organisasi wadah selebriti nasional) Jawa Barat, " ujarnya. Meski usia saya pada saat itu jauh di bawahnya, tapi ia biasa kalau ketemu bilang 'akang'. "Girl friend, kang," tanyaku. "Ah bukan, platonic friendship," jawab sambil tersenyum. "Oke. Keren," kataku sambil mengacungkan jempol kanan. Platonic friendship adalah persahabatan platonik. Yakni hubungan pertemanan yang terjalin tanpa melibatkan perasaan romantis. Platonic awalnya dari Plato yang mengadopsi ide-ide dan gagasannya tentang cinta. Ia bercerita, pertemuannya dengan wanita ini di acara reuni. Dulu satu sekolah, di salah satu SMA favorit di Kota Bandung. Keduanya, anak orang kaya raya, masuk ke perguruan tinggi favorit juga. Namun, berlimpah ruahnya materi, membuat teman saya ini tidak memfungsikan ilmu yang dimilikinya. Pertemuan di acara reuni itu, mungkin karena sudah banyak perubahan dari keduanya, mereka tidak ujug-ujug membangun sebuah komitmen, tapi bersahabat dengan tetap saling menghargai dan menyayangi tanpa making love.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.