VISI | Pesantren, Dari Jihad Ilmu ke Jihad Ekonomi
Oleh Nuslih Jamiat
DI SEBUAH pagi yang sejuk di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut Ciwidey, santri-santri Pondok Pesantren Al-Ittifaq tidak hanya membaca kitab kuning. Mereka sibuk memilah sayuran organik hasil panen sendiri yang akan dikirim ke berbagai supermarket ternama di Jakarta dan Bandung. Ini bukan pemandangan biasa di sebuah pesantren tradisional, namun inilah wajah baru pesantren Indonesia di tahun 2025.
Pergeseran Paradigma: Dari Jihad Ilmu ke Jihad Ekonomi
Transformasi pesantren Indonesia sedang terjadi dengan masif. Hingga 2025 terdapat lebih dari 42.000 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jutaan santri aktif. Angka ini menunjukkan bahwa pesantren bukan lagi sekadar lembaga pendidikan keagamaan tradisional, melainkan ekosistem besar yang mulai berperan dalam pembangunan ekonomi nasional.
KH. Fuad Affandi dari Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey adalah salah satu pionir yang memadukan pembelajaran agama dengan kewirausahaan sejak tahun 1970. "Tidak semua lulusan pesantren bisa menjadi kiai," ujarnya suatu hari, menjelaskan filosofi di balik transformasi pesantrennya. Dari pemikiran sederhana ini, lahirlah konsep "triangle kurikulum" yang memadukan belajar, ngaji, dan berkarya.
Kini, Kopontren Al-Ittifaq telah berkembang menjadi model koperasi pesantren yang sukses secara ekonomi dan sosial. Pesantren ini mampu mengirimkan 3-4 ton sayuran segar tiga kali seminggu ke berbagai supermarket. Mereka mengkoordinir 500 kelompok petani dan telah menerima penghargaan Kalpataru pada tahun 2003 sebagai eco-pesantren. Yang lebih mengesankan, terdapat 120 komoditas pertanian yang dihasilkan dari agribisnis pesantren ini, mulai dari sayuran dataran tinggi hingga produk spesifik untuk restoran.
Data Terkini: Program Pemerintah dan Pertumbuhan BUMP
Komitmen pemerintah terhadap transformasi ekonomi pesantren semakin kuat di tahun 2025. Dalam lima tahun terakhir, Kementerian Agama telah menyalurkan dana miliaran rupiah untuk program inkubasi bisnis di ribuan pesantren. Hasilnya sangat menggembirakan: muncul lebih dari 1.000 Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP) yang kini bergerak di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, hingga teknologi digital.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!