VISI | Peran Pemerintah dan Stakeholder dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (Bagian 4)
Berikut ini contoh konkret keberhasilan muncul di berbagai daerah. Misalnya pada Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, yang mendapat dukungan inkubasi dari Kemenag berhasil mengembangkan Lirboyo Bakery yang kini dikenal luas, tidak hanya melayani kebutuhan internal pesantren tetapi juga menjadi ikon ekonomi lokal. kumparan. Pesantren-pesantren lain juga turut mengikuti jejak ini: unit usaha yang sebelumnya berskala kecil kini mampu menjangkau pemasaran regional, bahkan nasional. Bisnis Bandung.
Namun demikian tantangan besar masih menanti, berdasarkan publikasi Kemenag; kendala utama terletak pada ketersediaan SDM yang mampu menjalankan usaha profesional, kapasitas kelembagaan yang belum cukup kuat dalam tata kelola bisnis, kelemahan jaringan pemasaran, dan kesinambungan program pendampingan yang belum merata. pijakan.kemenag.go.id. Oleh karena itu, pendampingan tidak boleh hanya bersifat satu kali, karena untuk bisa menjalankan bisnis dari 0 butuh waktu belajar bertahun-tahun sampai mahir. Maka perlu program jangka panjang, pembinaan kelembagaan, serta penerapan model feedback loop antara pemerintah, pesantren, dan stakeholders swasta agar hasil inkubasi benar-benar berkelanjutan dan berdampak nyata terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat secara luas.
Saat ini peluang besar terbentang: jika pemerintah, pesantren, dan stakeholder swasta/akademik dapat bersinergi secara konsisten, maka pesantren tidak hanya akan menjadi lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi transformator ekonomi lokal yang mengangkat kesejahteraan komunitas di sekitarnya. Dengan dukungan kebijakan publik, modal, pendampingan teknis, dan jejaring pemasaran yang baik, harapan untuk pesantren yang mandiri secara ekonomi dan berkontribusi terhadap pembangunan nasional semakin nyata untuk medukung tercapainya Indonesia EMAS 2045.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!