VISI | Pendidikan Remaja Barak Militer
Kita tidak bisa menutup mata bahwa dukungan masyarakat terhadap kebijakan ini bukan tanpa alasan. Banyak orang tua yang lelah dan putus asa menghadapi anak-anak mereka. Mereka berharap ada “tangan kuat” yang bisa membantu menata ulang arah kehidupan anak-anaknya. Sayangnya, ketika institusi pendidikan dianggap lemah dalam mendidik karakter, maka militer pun menjadi harapan.
Namun, inilah letak ironi kita: ketika sekolah tidak dipercaya sebagai tempat penumbuhan karakter, justru kita menyerahkannya ke lembaga yang bukan ranah utamanya dalam pedagogi anak. Ini adalah kritik tajam terhadap sistem pendidikan kita yang masih gagal mengembangkan pendekatan karakter secara utuh dan konsisten.
Alih-alih menempatkan remaja bermasalah ke barak militer sebagai satu-satunya solusi, kita harus memikirkan pendekatan yang integratif dan proporsional. Ada beberapa langkah yang bisa diambil:
Pertama; Revitalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah.
Pendidikan karakter bukan sekadar proyek tambahan, tetapi menjadi jiwa dari setiap mata pelajaran dan aktivitas sekolah. Guru bukan hanya mengajar, tapi mendidik dengan keteladanan.
Kedua, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas.
Jangan sekolah bekerja sendiri. Orang tua harus dilibatkan secara aktif dan komunitas lokal (termasuk TNI, Polri, tokoh agama, dan pemuda) bisa menjadi mitra dalam pendidikan karakter.
Ketiga, membangun program semi-militer dalam Format Pendidikan Kontekstual.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!