VISI | Pendidikan Remaja Barak Militer
Oleh Drajat
BELAKANGAN ini, publik kembali diramaikan oleh sebuah kebijakan yang cukup kontroversial namun juga menyedot perhatian luas, yakni ide dari Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, yang mendorong agar remaja-remaja dengan masalah perilaku, khususnya yang terlibat kenakalan remaja, diberikan pendidikan di barak militer. Kebijakan ini muncul sebagai bentuk keprihatinan atas merosotnya kedisiplinan, moralitas, dan tanggung jawab sosial sebagian remaja kita.
Di satu sisi, masyarakat, terutama para orang tua merespons dengan penuh harapan. Mereka menilai ini sebagai bentuk ketegasan dan solusi alternatif ketika pendekatan pendidikan konvensional dianggap tidak cukup memberi efek jera dan perubahan karakter. Di sisi lain, lembaga seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan kekhawatirannya. Pendidikan ala barak militer dianggap terlalu keras, tidak ramah anak, dan bisa menyalahi prinsip pendidikan yang seharusnya holistik, humanis, serta berbasis pengasuhan.
Sebagai guru dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, sekaligus seorang praktisi dan akademisi di bidang pendidikan, saya melihat bahwa ini bukan hanya polemik tataran teknis—tetapi lebih jauh merupakan refleksi dari krisis paradigma dalam menangani masalah pendidikan karakter dan kenakalan remaja.
Mari kita jujur. Tidak sedikit remaja kita yang hari ini terjebak dalam perilaku menyimpang: perundungan (bullying), tawuran, konsumsi alkohol, narkoba, hingga penggunaan media sosial untuk hal negatif. Dunia pendidikan sering kali kewalahan menghadapi mereka karena berbagai keterbatasan: sistem pendidikan yang terlalu akademis, kekurangan guru pembimbing yang mumpuni, hingga lemahnya kolaborasi sekolah dengan orang tua.
Di sinilah muncul ide untuk "mendisiplinkan ulang" para remaja ini lewat pendidikan militer. Dalam konteks tertentu, pendidikan militer memang dikenal membentuk karakter kuat: disiplin tinggi, tanggung jawab, kerja sama tim, dan patriotisme. Namun harus diingat: militer adalah sistem pendidikan yang keras dan hierarkis, yang cocok untuk orang dewasa dalam konteks pertahanan negara, bukan untuk remaja yang masih dalam masa perkembangan psikologis dan sosialnya. Maka, ketika pendidikan militer dijadikan rujukan untuk pembinaan remaja, pertanyaannya adalah: apakah ini pendidikan atau sanksi? Apakah ini upaya pemulihan atau penyeragaman perilaku?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!