VISI | Paham Agama dan Politik
Lalu, bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hal ini?
Rasulullah SAW pernah bersabda:"Akan datang suatu zaman di mana yang hak dianggap batil dan yang batil dianggap hak. Maka berpegang teguhlah pada agamamu, karena siapa yang hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan." (HR. Abu Dawud)
Berpegang teguh bukan berarti kita fanatik pada paham yang akan menjadikan perpecahan. Fanatik pada Allah SWT dan Rasulullah SAW lebih baik dari pada fanatik pada tafsir-tafsir agama yang berpotensi menjadi banyak perbedaan paham dan terpecah belah. Karena sebagian tafsir itu bisa berubah pemahamannya sesuai dengan perkembangan politik dan jaman.
Artinya, kita harus bijak dalam menghadapi perbedaan yang muncul terutama akibat politik. Jangan sampai iman kita naik turun hanya karena suasana politik. Jangan juga sampai kita membenci saudara sesama Muslim hanya karena perbedaan fiqih yang dipengaruhi oleh kondisi politik di suatu daerah.
Islam mengajarkan pentingnya persatuan. Meski berbeda pendapat, kita tetaplah satu umat. Seperti firman Allah SWT:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103)
Dalam konteks politik, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana cara kita tetap menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan yang ada? Salah satu jawabannya adalah dengan tidak gampang terprovokasi.
Ada orang yang dulunya rajin tahlilan, tapi karena kepala daerahnya ganti, mendadak jadi anti-tahlil. Ada juga yang dulu tidak pernah ikut Maulid, tapi karena kebijakan daerah berubah, mendadak jadi paling NU. Ini kan lucu? Seharusnya, keyakinan kita tidak ditentukan oleh siapa yang sedang berkuasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!